19 agustus 2010

Wow, Kereta Khusus Perempuan Beroperasi

Kompas.com - 09/08/2010, 16:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Maraknya kasus pelecehan seksual yang terjadi di atas moda transportasi umum yang menimpa kaum perempuan tampaknya mendapat perhatian serius dari PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Untuk mengantisipasi hal itu tidak kembali terulang, PT KAI berencana meluncurkan dua gerbong khusus perempuan dalam satu rangkaian kereta rel listrik (KRL) dengan rute Bogor-Jakarta-Bogor. Rencananya, gerbong khusus ini mulai beroperasi pada Kamis (19/8/2010) mendatang.

Sekretaris PT KAI Commuter Jabodetabek Makmur Syaheran mengatakan, untuk tahap pertama, pihaknya baru menyediakan dua gerbong khusus penumpang perempuan pada KRL jurusan Bogor-Jakarta-Bogor. Namun, jika banyak peminatnya, PT KAI akan mengupayakan semua rute KRL tersedia gerbong khusus penumpang perempuan.

“Dua gerbong khusus ini disediakan agar penumpang perempuan lebih aman, nyaman, dan tenang dalam menikmati jasa layanan KRL PT KAI,” ujar Makmur, Senin (9/8/2010).

Dijelaskan Makmur, dua gerbong khusus penumpang perempuan tersebut terdapat pada KRL Ekonomi AC dan KRL Ekspres. Dalam satu rangkaian KRL biasanya terdiri dari delapan gerbong penumpang. Dua di antaranya disediakan khusus untuk perempuan. Adapun gerbong yang disediakan tersebut yakni gerbong 1 dan gerbong 8, sedangkan gerbong 2 hingga 7 disediakan untuk penumpang umum.

“Jika dua gerbong khusus itu sudah penuh, penumpang perempuan bisa menggunakan gerbong dua hingga tujuh. Namun, gerbong 1 dan 8 tidak boleh digunakan penumpang laki-laki,” ujarnya.

Kendati disediakan gerbong khusus perempuan, Makmur menegaskan, tidak ada perubahan pada harga tiket serta jadwal keberangkatan dan kedatangan KRL yang terdapat unit khusus perempuan.

“Harga tiket dan jadwal KRL tetap sama seperti biasanya. Namun, kami belum bisa menentukan berapa rangkaian KRL yang disediakan gerbong khusus tersebut. Jumlahnya masih dalam pembicaraan. Secara pasti pengadaannya akan kami lakukan secara bertahap,” tandasnya.

Rencana peluncuran gerbong khusus bagi penumpang perempuan oleh PT KAI pun disambut baik Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Bang Fauzi, sapaan akrabnya, menyatakan mendukung rencana PT KAI tersebut. Sebab, dengan begitu kaum perempuan akan terasa lebih aman dan nyaman saat menempuh perjalanannya.

“Hal yang sama sudah kita lakukan pada antrean busway. Sejak Juni lalu kami sudah terapkan pemisahan antrean penumpang busway yang bertujuan menghindari kasus-kasus yang merugikan kaum perempuan,” ujar Fauzi Bowo di Balaikota DKI, Senin.

Sebelumnya, Manajer Pengendalian BLU Transjakarta Gunardjo mengungkapkan, pemisahan antrean penumpang dilakukan tidak hanya didasari terjadinya kasus pelecehan seksual dalam antrean bus transjakarta. Hal itu dilakukan karena BLU Transjakarta ingin melakukan perbaikan pelayanan di semua halte yang jumlahnya mencapai 140 unit.

Khusus penumpang cacat, lanjut usia (lansia), anak-anak, dan orang sakit disarankan untuk masuk ke dalam antrean khusus perempuan. “Mudah-mudahan cara ini bisa meminimalisir atau menghindari terjadinya peristiwa pelecehan seksual atau aksi premanisme dalam busway,” ucapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau