Terpental 2 meter

Anak Balita Korban Tabung Elpiji Meninggal

Kompas.com - 10/08/2010, 09:11 WIB

BOGOR, KOMPAS.com — Korban ledakan tabung elpiji ukuran 3 kg sudah tak terhitung jumlahnya. Seorang ibu dan putrinya, Fitrianingsih (30) dan Sofi (4,5), Senin (9/8/2010) pukul 07.00 WIB, menjadi korban ledakan elpiji dan harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia (RSU PMI) Bogor.

Fitrianingsih menderita luka bakar pada kepala, sementara Sofi luka bakar serius di sekujur tubuhnya. Anak balita ini sekitar pukul 12.00 akhirnya meninggal dunia.

Ledakan elpiji itu terjadi saat Fitria memasak di rumahnya di Kampung Ciribende RT 05 RW 06, Bogor Tengah, Kota Bogor.

Sebelumnya Fitria sudah curiga dengan bunyi yang tidak wajar dari selang regulator kompor gasnya sehingga dia bermaksud mematikan kompor. Namun belum sempat dia memutar knop kompor, ledakan keburu terjadi. Bunyi ledakan dari tabung elpiji 3 kg itu bahkan terjadi hingga tiga kali.

Saat peristiwa itu terjadi, Sofi tengah asyik bermain di dekat ibunya. Tiba-tiba saja api menyembur dari tabung gas dan membuat anak balita ini terpental membentur tembok.

"Pukul 12.00 anak saya meninggal saat dirawat di Ruang Dahlia," kata Fitria, dengan mata berkaca-kaca, saat ditemui di RSU PMI Bogor.

Sejak Juni lalu ledakan tabung elpiji di Bogor sudah terjadi tujuh kali. Sebelum menimpa ibu-anak ini, ledakan serupa mengakibatkan suami-istri Apud dan Ihat luka bakar serius. Peristiwanya terjadi di rumah mereka di Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Menurut Sofyan, ayah Sofi, peristiwa yang merenggut nyawa anak semata wayangnya itu terjadi saat istrinya memasak untuk keperluan cucurak (makan bersama sebelum puasa) bersama guru-guru SMK Farmasi, tempat Fitria berjualan makanan. "Pagi itu istri saya sedang masak ayam, sayur, dan jengkol," katanya.

"Tiba-tiba tabung elpiji menyemburkan api. Anak saya langsung terpental sekitar dua meter, membentur tembok, dan wajahnya mengenai lantai dekat kamar mandi. Mulutnya berdarah dan pipinya sobek. Bagian perut kanan juga luka," kata Sofyan lagi.

Dengan menggunakan peralatan seadanya, Sofyan berhasil memadamkan api. "Saya langsung membawa anak dan istri ke rumah sakit," katanya.

Petugas Polsek Bogor Tengah mengamankan sebuah tabung elpiji ukuran 3 kg dan sebuah kompor gas. "Kami sedang menyelidiki penyebab kebocoran elpiji tersebut, apakah dari tabungnya atau dari selangnya," kata Kanit Reskrim Polsek Bogor Tengah AKP Choirudin Ahmad.

Ahmad Findilah, anggota Satuan Tugas Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas), menetapkan, pihaknya bersama Pertamina akan menyelidiki penyebab kejadian tersebut.

"Untuk menghindari terulangnya kejadian serupa, PT Pertamina akan segera mendistribusikan selang dan regulator yang ber-SNI," ujarnya.

35 tersangka

Kabareskrim Polri Komjen Ito Sumardi kemarin menetapkan pihaknya telah menetapkan 35 orang sebagai tersangka pemuntikan tabung elpiji. Dari 35 tersangka itu, sebanyak 5 berkas perkaranya telah P21 (dinyatakan lengkap oleh kejaksaan).

"Sudah 35 tersangka yang kami tahan. Lima berkas perkara dari kasus-kasus itu sudah P21, sedangkan sisanya masih dilengkapi," kata Ito seraya menambahkan, para tersangka itu memiliki peran berbeda-beda dalam tindak pemuntikan tabung elpiji.

Pernyataan Ito itu dikemukakan seusai rapat koordinasi mengenai tabung elpiji 3 kg bersama sejumlah kementerian terkait, di gedung Kementerian Sosial, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, kemarin. (wid/ded/Ant)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau