Habib rizieq:

Ustaz "Istiqomah" Kok Tiba-tiba Ditahan

Kompas.com - 10/08/2010, 12:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pendiri Front Pembela Islam (FPI) Al-Habib Mohammad Rizieq bin Huesin Syihab atau biasa dipanggil Habib Rizieq mendatangi Mabes Polri untuk menemui Abu Bakar Ba'asyir. Selain itu, dia ingin mempertanyakan  penangkapan Abu Bakar Ba'asyir kepada pihak kepolisian.

Habib Rizieq datang bersama Munarman serta beberapa ulama lain. Namun, dia belum bersedia berkomentar tentang penangkapan Ba'asyir. "Setelah ketemu Ustaz Abu, setelah ketemu penyidik, baru kami akan berkomentar. Kami mau nengok Ustaz Abu sekaligus menanyakan Mabes Polri alasan penangkapan," ucapnya saat tiba di Mabes Polri, Selasa (10/8/2010).

Habib mengaku tidak mengerti tentang penangkapan Ba'asyir. "Ada yang belum paham. Yang enggak paham seorang ustaz yang istiqomah, akhlaknya baik, orangnya santun, prinsipnya bagus, kok tiba-tiba ditahan. Ini kan perlu ditanya. Insya Allah akan ada sikap setelah pertemuan," ucapnya.

Seperti diberitakan, Ba'asyir ditangkap lantaran diduga terlibat pelatihan militer kelompok teroris di Aceh Besar. Dia diduga mendanai, mengatur pelatihan, menyembunyikan informasi tentang pelatihan, dan tuduhan lain. Namun Ba'asyir membantah. Menurut dia, penangkapannya hanya pesanan dari negara Amerika Serikat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau