Tak Ingin Rugi, Ayam Tak Segar Dijual

Kompas.com - 11/08/2010, 10:06 WIB

DEPOK, KOMPAS.com — Tidak ingin mengalami rugi besar, sejumlah pedagang ayam di Pasar Kemirimuka, Depok, nekat menjual ayam yang sudah tidak segar. Ayam tersebut baru akan dibuang jika dua hari tidak laku.

"Daripada rugi besar, daging ayam yang tidak laku terjual hari ini akan dimasukkan ke dalam lemari es. Esoknya dijual kembali. Kalau sudah dua hari ayamnya terpaksa dibuang," kata Dalium (40), pedagang ayam, Selasa (10/8/2010).

Menurut Dalium, harga daging ayam yang tidak segar itu dijual lebih murah Rp 3.000 dari ayam segar. Untuk ayam ukuran besar dari Rp 30.000 menjadi Rp 27.000. Ada juga dari Rp 35.000 menjadi Rp 32.000 per ekor.

"Dijual lebih murah karena sudah tidak segar. Warnanya sudah tidak merah lagi, melainkan pucat. Pembelinya tetap ada, yah... langganan saya yang buka warteg," ujarnya.

Dalium menjelaskan, dia terpaksa melakukan hal itu karena kenaikan harga ayam dari peternak. Biasanya untuk ayam hidup kecil itu harga per ekor antara Rp 18.000 dan Rp 19.000, menjelang puasa naik menjadi Rp 20.000-Rp 21.000, sedangkan ayam besar di atas Rp 25.000 per ekor.

Karena itu, harga jual daging ayam pun dinaikkan. Untuk per ekor ayam kecil antara Rp 22.000 dan Rp 23.000, sedangkan ayam besar per ekor Rp 30.000-Rp 35.000. Dalium pun meminta pemerintah untuk menurunkan harga jual ayam dari peternak ayam.

Hal senada disampaikan Anwar, anggota Persatuan Pedagang Ayam Depok (PPAD) dari Pasar Kemiri, Depok. "Penyebabnya dari peternak. Peternak menahan menjual ayam agar mereka untung gede. Kami mengambilnya dari peternak Bogor," tuturnya.

Dikatakan Anwar, meski dia sudah menjual ayam sesuai harga pasaran, yakni Rp 21.000 per ekor, penjualan tetap menurun. Dari 50 ekor ayam yang dijualnya, hanya laku 25 ekor.

"Saya sudah bela-belain rugi Rp 2.000 per ekor, daging ayam tetap tak habis terjual. Kami minta pemerintah untuk menekan harga ayam turun dari peternak ayam. Posko sudah menetapkan Rp 18.000 per ekor, tapi peternak menaikkan harga seenaknya," ujar Anwar.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok Iskandar Rais mengatakan, pihaknya akan melakukan inspeksi mendadak ke pasar tradisional di Depok untuk mengetahui ketersediaan ayam di Kota Depok.

"Kami tidak punya kewenangan atas penurunan harga, kewenangan kami hanya pada bagaimana ketersediaan ayam di Depok tercukupi," katanya. (dod)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau