SRINAGAR, KOMPAS.com — Tiga polisi dan seorang wanita tewas di Kashmir India, Rabu (11/8/2010), ketika wilayah yang berpenduduk Muslim itu menyambut bulan suci Ramadhan.
Seorang wanita tewas dan delapan orang cedera ketika bus yang membawa mereka terperangkap dalam tembak-menembak antara gerilyawan Muslim dan pasukan India.
Gerilyawan membunuh tiga polisi dalam serangan terpisah di daerah sekitar 50 kilometer sebelah utara Srinagar, ibu kota musim panas Kashmir India.
Protes keras anti-India di kota-kota Kashmir India yang telah melumpuhkan wilayah itu terjadi sejak seorang pelajar remaja tewas oleh tembakan gas air mata polisi pada 11 Juni.
Sekitar 50 orang, sebagian besar pemuda dan remaja, tewas ketika pasukan keamanan melepaskan tembakan untuk mengendalikan demonstrasi separatis yang marah akibat kematian setiap pemrotes.
Kekerasan itu merupakan yang paling mematikan di kawasan tersebut dalam dua tahun ini. Ramadhan di India dimulai pada Kamis. Di masa silam, Ramadhan dinodai oleh meningkatnya kekerasan di Kashmir.
Polisi pada Rabu menembakkan gas air mata dan menggunakan pentungan untuk membubarkan ribuan orang yang berkumpul di distrik utara Kreeri untuk berkabung dan memprotes kematian seorang pelajar remaja, kata polisi dan saksi.
Penduduk mengatakan, pemuda itu hilang pada akhir bulan lalu setelah ditangkap pasukan keamanan. Selasa malam, mayatnya ditemukan di sebuah sungai. Polisi mengatakan bahwa kasus pembunuhan telah didaftar dan mereka berjanji melakukan penyelidikan yang profesional dan transparan.
Demonstrasi anti-India meningkat tajam di Kashmir sejak seorang remaja laki-laki yang berusia 17 tahun tewas setelah terkena tembakan gas air mata polisi pada 11 Juni.
Setiap kematian sejak 11 Juni menyulut kekerasan lebih lanjut meski telah ada seruan agar tenang dari Menteri Besar Kashmir Omar Abdullah. Pemuda dan remaja sering kali termasuk di antara demonstran yang melemparkan batu ke arah pasukan keamanan selama pawai.
Separatis Kashmir mengadakan pawai secara rutin, yang sering kali berbuntut kekerasan, sejak 2008. Puluhan pemrotes tewas dalam pawai sejak itu, sebagian besar akibat tembakan polisi.
Kekerasan di Kashmir turun setelah India dan Pakistan meluncurkan proses perdamaian yang bergerak lambat untuk menyelesaikan masa depan wilayah tersebut.
Perbatasan de facto memisahkan Kashmir antara India dan Pakistan, dua negara berkekuatan nuklir yang mengklaim secara keseluruhan wilayah itu. Dua dari tiga perang antara kedua negara itu meletus karena masalah Kashmir, satu-satunya negara bagian yang berpenduduk mayoritas Muslim di India yang penduduknya beragama Hindu.
Lebih dari 47.000 orang—warga sipil, militan, dan aparat keamanan—tewas dalam pemberontakan Muslim di Kashmir India sejak akhir 1980-an. Pejuang Kashmir menginginkan kemerdekaan wilayah itu dari India atau penggabungannya dengan Pakistan yang penduduknya beragama Islam.
New Delhi menuduh Islamabad membantu dan melatih pejuang Kashmir India. Pakistan membantah tuduhan itu, namun mengakui memberikan dukungan moral dan diplomatik bagi perjuangan rakyat Kashmir untuk menentukan nasib mereka sendiri.
Serangan-serangan pada 2008 di Mumbai, ibu kota finansial dan hiburan India, telah memperburuk hubungan antara India dan Pakistan. New Delhi menghentikan dialog dengan Islamabad yang dimulai pada 2004 setelah serangan-serangan Mumbai pada November 2008 yang menewaskan lebih dari 166 orang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang