Opini

Presiden untuk Rakyat

Kompas.com - 13/08/2010, 09:07 WIB

Oleh Kartono Mohamad*

KOMPAS.com - Beberapa bulan yang lalu, koran Washington Post memuat evaluasi capaian kinerja Presiden Barack Obama setahun setelah menjabat, yang dicocokkan dengan janjinya sewaktu kampanye. Dikatakan bahwa dari janji-janji kampanye tersebut, ada lima yang sudah ia selesaikan, tujuh masih dalam proses, dan tiga lagi baru akan dimulai.

Boleh dikatakan hasil kinerja Obama cukup lumayan dalam usahanya memenuhi janjinya saat kampanye. Namun, tak berarti itu menjadikan Obama kian populer. Sebaliknya, dalam poll yang diselenggarakan koran yang sama beberapa minggu lalu, popularitas Obama justru menurun.

Lebih dari separuh responden tidak puas terhadap Obama, terutama yang berkaitan dengan kebijakan reformasi kesehatan dan penanganan tumpahan minyak di Teluk Meksiko. Ketika itu memang masih terjadi negosiasi antara Obama dan perusahaan minyak BP. Belum sampai pada keberhasilan Obama memaksa BP memberi ganti rugi dan menutup kebocoran.

Dalam soal reformasi kesehatan, yang tidak disukai rakyat Amerika adalah kebijakan pemerintah federal untuk mewajibkan setiap penduduk memiliki asuransi kesehatan. Rakyat AS beranggapan pemerintah tidak berhak mewajibkan rakyat untuk mempunyai asuransi atau tidak karena itu masalah hak setiap individu. Di sisi lain, Obama melihat banyak anak dan orang setengah miskin di AS yang tidak terlindungi asuransi kesehatan sehingga kalau sakit mereka sulit membiayai pengobatannya.

Untuk yang miskin, sejak tahun 1965 sudah ada perlindungan pemerintah melalui Medicare, semacam Askeskin. Yang juga tidak senang dengan kebijakan reformasi kesehatan adalah industri asuransi karena sekarang mereka dibatasi dalam hal tarif premi dengan peningkatan pajak, ditambah larangan untuk menyaring peserta berdasarkan keadaan kesehatannya ketika hendak membeli premi.

Sebelumnya, perusahaan asuransi dapat menolak menjual premi kepada orang yang diketahui sudah memiliki penyakit sejak sebelum menjadi peserta. Beberapa pejabat negara bagian, terutama yang dikuasai Partai Republik, juga menolak kebijakan reformasi kesehatan Obama dan mengancam membawa masalah ini ke Mahkamah Agung.

Obama tampaknya tidak peduli dengan popularitasnya dan tetap melanjutkan program reformasi kesehatan. Ia tetap pada pendiriannya seperti yang ia ucapkan sewaktu menandatangani UU Reformasi Kesehatan bahwa ia menandatangani UU itu untuk menolong puluhan juta anak dan orang yang tidak kaya yang saat ini tidak terlindungi asuransi kesehatan. Perusahaan-perusahaan kecil dan menengah yang tak sanggup memberikan jaminan kesehatan kepada karyawan diberi insentif jika mereka mau membantu karyawan membeli asuransi kesehatan.

Sebaliknya, orang kaya yang mampu membeli asuransi kesehatan yang mahal dikenai tambahan pajak, yang akan digunakan untuk membantu rakyat yang tidak mampu agar mereka mampu membeli asuransi kesehatan. Proses reformasi ini masih berjalan dan hasilnya baru akan tampak setelah 2014. Setelah Obama mungkin tidak jadi presiden lagi.

Kepentingan rakyat

Sikap untuk rakyat yang lain adalah ketika secara tegas ia menekan BP untuk menyisihkan uang untuk pembersihan pantai Amerika, memberi kompensasi kepada penduduk pantai yang terkena cemaran minyak, menyisihkan uang untuk kompensasi rakyat AS yang menjadi buruh di tambang minyak yang bocor, dan menghentikan kebocoran secepat mungkin. Obama tampaknya tak takut pada sekutu terkuatnya, Inggris, tempat asal perusahaan BP.

Sikap yang juga untuk kepentingan rakyat adalah ketika ia menandatangani UU pengendalian perdagangan tembakau. UU itu lebih ketat dibanding Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang diusulkan WHO karena selain memuat ketentuan yang sejalan dengan FCTC juga melarang penggunaan kata-kata ”mild” dan ”light” bagi rokok dan mengharuskan industri rokok melaporkan semua kandungan yang terdapat dalam rokok ke Food and Drug Administration/FDA (BPOM). Dengan demikian, pengawasan terhadap rokok tak hanya oleh departemen perdagangan, tetapi juga FDA.

Sewaktu menandatangani UU tersebut, Obama mengatakan, ”Meskipun saya mendapat desakan dan tentangan dari industri (rokok) serta mereka yang menikmati iklan-iklan (rokok), saya tetap menandatangani UU ini demi menyelamatkan tiga juta penduduk, terutama anak-anak AS yang terancam kesehatannya oleh paparan asap rokok.”

Tentu saja dalam kebijakan lain Obama masih belum berhasil atau mendapat kritikan di dalam negeri, seperti penanganan ekonomi dan pengurangan pengangguran. Namun, contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa ia tidak terlalu takut popularitasnya menurun atau takut menghadapi para pemilik modal ketika ia harus membela rakyatnya. Mungkin karena ia sadar, yang menjadikannya presiden adalah rakyat dan tidak merasa berutang budi pada para pemilik modal.

*Kartono Mohamad Pengamat Kesehatan

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau