Smoothing yang Bikin Rambut Tetap Terlihat Alami

Kompas.com - 13/08/2010, 13:37 WIB

KOMPAS.com - Menurut data yang dibagi oleh L'Oreal Professionnel kepada Kompas Female beberapa waktu lalu, setidaknya 9 dari 10 wanita mendambakan rambut hitam yang lurus. Namun, permasalahannya, kebanyakan wanita di Indonesia, memiliki jenis rambut yang bergelombang dan keriting. Tak heran, treatment pelurusan rambut akan masih menjadi tren untuk beberapa waktu ke depan.

Berbagai macam metode dirancang dan dikreasikan untuk bisa memenuhi permintaan para wanita-wanita yang ingin melihat rambutnya menjadi lurus dan mudah diatur. Seperti Indri Afriani (25), misalnya, "Aslinya rambut saya bergelombang dan tipis. Setiap hari, untuk mendapatkan rambut lurus, saya harus mencatok. Selain capek harus bersiap lama-lama sebelum beraktivitas, lama kelamaan bikin rambut jadi kering dan rusak. Inginnya, ada treatment untuk rambut yang bikin lurus, kelihatan alami, enggak terlihat kaku, tapi juga enggak bikin rambut rusak. "

Melihat banyaknya keinginan pelanggan yang serupa, Johnny Andrean menawarkan perawatan pelurusan rambut terbaru yang diberi nama "Straight Smoothing". Menurut Valerie, Public Relations Johnny Andrean Salon, perawatan terbaru ini merupakan penyempurnaan dari servis pelurusan rambut yang terdahulu. Selama ini, hasil pelurusan rambut dengan smoothing membuat rambut terlihat kaku, terutama di bagian ujung-ujung rambut, kini kekhawatiran itu tak perlu lagi menghinggapi Anda.

Valerie menjelaskan, bahwa penyempurnaan metode pelurusan rambut ini menjanjikan hasil yang lebih maksimal, yakni; rambut yang lurus alami, mengusahakan untuk menjaga tekstur alami rambut, tidak membuatnya kaku. Juga mengusahakan rambut tetap lembut, sehat, tidak kering, berkilau, juga tidak lepek. Proses hanya akan difokuskan pada batang rambut agar tidak merusak kulit kepala, serta diberikan pelembap, agar rambut tidak kering.

Tahap pertama untuk proses ini adalah hair scanning, untuk mengetahui kondisi kulit kepala dan batang rambut. Dilanjutkan dengan pencucian rambut, lalu proses smoothing pun dimulai. Produk akan diaplikasikan dari pangkal rambut, diberi jarak 1 cm dari akar rambut, lalu didiamkan selama 30 menit. Fungsinya produk yang berwarna putih dan berbau agak menyengat ini adalah untuk memperlembut dan melenturkan batang rambut. Setelah itu, dibersihkan, lalu dikeringkan, kemudian dicatok untuk menyematkan produk agar lebih erat masuk ke dalam rambut. Dilanjutkan dengan pemberian neutralisir, lalu didiamkan selama 10 menit, fungsinya untuk mempertahankan tekstur rambut agar tahan lama dan terhindar dari kerusakan. Rambut kembali dibilas, dikeringkan, dan sudah bisa ditata. Lama proses, sekitar 2 jam. Jadi, jika memungkinkan, bawa bahan bacaan atau alat lainnya untuk menemani Anda.

Indri, yang sudah mencoba perawatan ini mengatakan, "Smoothing ini memang berbeda dari smoothing lain yang pernah saya coba. Kalau dulu, saya enggak boleh keramas 2-3 hari setelah treatment, tetapi yang ini, esok harinya saya boleh keramas. Plus, rambut saya jadi lurus alami, dan bisa ditata macam-macam, seperti gelombang atau ikal kalau mau ke pesta atau acara formal lain. Saya jadi lebih mudah mengurus rambut, enggak buang banyak waktu, jadi lebih ringkas, setelah keramas, hair dryer, tinggal berangkat. Yang enaknya lagi, rambutnya enggak lurus kaku, kelihatan alami, enggak lepek, dan lembut."

Dijelaskan Valerie, perawatan ini mampu bertahan 3-4 bulan, tergantung dari tekstur rambut, jika tekstur tebal, bisa tahan hingga 3 bulan, sementara yang tekstur rambut halus, bisa tahan hingga 4 bulan. Harga servis perawatan ini mulai dari Rp 265.000 dan bisa didapatkan di gerai-gerai Johnny Andrean sejak 2 Agustus 2010 lalu. Untuk perawatannya, supaya tetap tahan lama dan menjaga kesehatan rambut, disarankan untuk melakukan hair spa dan masker rambut setidaknya 2 kali seminggu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau