Filipina

Istri Petinggi Polisi Dililit Kasus Korupsi

Kompas.com - 14/08/2010, 03:56 WIB

Manila, Jumat - Para penyidik pemerintah, Jumat (13/8), mengajukan permohonan dakwaan pidana terhadap istri kepala polisi Filipina dan 12 perwira senior dalam sebuah rencana penyelundupan uang tunai yang terungkap di Rusia.

Ombudsman, jaksa utama antikorupsi, menerima pengaduan resmi itu dan diperkirakan akan memutuskan dalam tiga bulan apakah akan mengajukan dakwaan pidana di pengadilan, menurut asisten ombudsman Joselito Fangon.

”Kami mempunyai kasus yang kuat. Mereka bisa menyangkal fakta, tetapi kasus ini terutama berdasarkan bukti dokumenter dari polisi nasional,” kata Fangon kepada AFP.

Polisi bea dan cukai Moskwa menahan kelompok itu ketika sejumlah 105.000 euro (sekitar 135.000 dollar AS) yang tak dideklarasi ditemukan di koper mereka ketika mereka menuju sebuah konferensi Interpol di ibu kota Rusia itu.

Kelompok itu antara lain Cynthia Verzosa, istri Jesus Verzosa yang kemudian menjadi kepala polisi Filipina. Suaminya tidak ikut dalam perjalanan ke Moskwa itu.

Kelompok itu kemudian dibebaskan tanpa dakwaan, tetapi insiden itu menimbulkan kegemparan di Filipina mengenai korupsi di tubuh kepolisian.

Penyidikan

Sebuah penyidikan polisi kemudian menghasilkan pengaduan korupsi itu, kata Fangon.

”Para Jenderal Euro”, julukan yang diberikan pers setempat, mengatakan, uang itu datang dari anggaran polisi dan disediakan untuk ”berjaga-jaga” selama perjalanan itu.

Namun, Fangon mengatakan, penyidikan menemukan bahwa uang itu milik pengawas keuangan polisi nasional waktu itu, Eliseo de la Paz, yang ada dalam rombongan ke Moskwa.

Fangon mengatakan, para penyidik tidak tahu dari mana uang itu berasal. Akan tetapi, berdasarkan hukum setempat, memiliki uang dalam jumlah besar, jauh di atas gaji resminya, sudah bisa dijadikan alasan untuk kecurigaan bahwa De la Paz telah mendapatkan uang itu secara tidak sah.

Penyidikan itu meminta agar dakwaan penyelundupan uang dikenakan terhadap De la Paz, sedangkan dakwaan-dakwaan korupsi direkomendasikan untuk pejabat-pejabat yang lain karena upaya menutup-nutupi, kata Fangon.

Istri Verzosa dituduh berbohong sebagai pegawai pemerintah agar pemerintah membayari perjalanannya.

Fangon mengatakan, hanya dua atau tiga dari 12 jenderal itu yang masih aktif berdinas di kepolisian dan yang lain telah pensiun atau mengundurkan diri.

Para pejabat Filipina telah berada di bawah tekanan untuk memberantas korupsi sejak Presiden Benigno Aquino dilantik bulan Juni, dengan menjanjikan reformasi meluas.

Penggelapan pajak

Sementara itu, pihak pajak Filipina hari Jumat menyatakan, mereka menginginkan empat pejabat perusahaan konstruksi China, China State (Philippines) Construction Engineering Corp, dipenjara dan didenda karena merencanakan untuk menghindari pembayaran pajak hampir 16 juta dollar.

”Mereka bisa dipenjara 10 tahun. Ini bukan sekadar membayar kembali pajak,” kata Estela Sales, deputi komisioner Badan Pajak Nasional, yang mengatakan, mereka akan dicegah meninggalkan negara itu. (AFP/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau