JAKARTA, KOMPAS.com - Jajaran Kepolisian Resor Klaten, Jawa Tengah, mendalami kasus ledakan akibat kebocoran elpiji yang terjadi Jumat (13/8/2010) dini hari di Kecamatan Ngawen untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.
"Kemungkinan besar penyebabnya adalah kesalahan manusia karena tidak menyadari bau elpiji yang bocor," kata Kepala Satuan Resor Kriminal Polres Klaten AKP Edy Suranta Sitepu di Klaten, Sabtu (14/8/2010).
Dia mengatakan, bau gas yang bocor tidak disadari korban karena tertutup bau obat nyamuk bakar yang berada di dekat korban.
Saat ini, barang bukti berupa tabung, regulator, selang elpiji, serta pakaian korban yang terbakar telah diamankan di kantor Polres setempat untuk diteliti oleh tim laboratorium forensik dari Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah.
Sementara itu, ketiga korban ledakan yaitu Parlan (32), Ari Mulyani (25), dan Amalia (11 bulan) masih dirawat secara di Rumah Sakit Umum Pusat Soeradji Tirtonegoro Klaten.
Sabtu ini, Amalia yang sebelumnya dirawat di bangsal Melati, akan dipindahkan ke ruang isolasi di bangsal yang sama.
"Amalia akan dipindahkan agar perawatan yang dilakukan lebih intensif," kata Direktur Layanan Medik RSUP Soeradji Tirtonegoro, Djoko Windoyo.
Dia menjelaskan, di antara ketiganya, Parlan mengalami luka bakar terparah sebanyak 54 persen dari tubuhnya. "Bagian tangannya yang melepuh pun merupakan luka bakar tingkat ketiga," katanya.
Selain itu, Ari Mulyani dan Amalia mengalami luka bakar sebanyak 36 dan 34 persen dari tubuh mereka.
Dia mengatakan, keluarga tersebut kemungkinan besar harus dirawat hingga satu bulan di rumah sakit hingga luka bakar mereka membaik.
Kejadian di kompleks Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Ngawen yang dialami Parlan dan keluarganya tersebut berawal ketika kantin yang dijadikan rumah tinggal mereka mengalami mati lampu.
Ari Mulyani yang saat itu terbangun berinisiatif untuk menyalakan lilin, namun tiba-tiba terjadi ledakan karena kebocoran gas elpiji.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang