Kemerdekaan

14 Agustus, Hari 'Sunyi' Pakistan

Kompas.com - 14/08/2010, 15:10 WIB

KOMPAS.com — Warga Indonesia menunjukkan senyum sumringah lantaran pada Selasa (17/8/2010) perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Segala persiapan pesta tengah disiapkan.

Namun, Sabtu (14/8/2010), justru menjadi Hari "Sunyi" bagi Pakistan. Padahal, di hari inilah Pakistan merayakan Hari Kemerdekaan.

Tak ada kembang api. Tak ada pesta rakyat. Tak ada bunyi-bunyian lagu dan tari budaya. Acara perayaan resmi kenegaraan pun batal.

Adalah Presiden Asif Ali Zardari yang memutuskan tak ada perayaan macam itu, sebagaimana lazim setahun sekali. "Negeri ini tengah dilanda bencana banjir," katanya sebagaimana warta AP dan Reuters, Sabtu. 

Keprihatinan macam itulah yang ditonjolkan duda mati almarhumah Benazir Bhutto tersebut. Bahkan, pada Sabtu, agenda Zardari adalah mengunjungi para korban banjir di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa dan Punjab. Sebelumnya, Zardari banyak memperoleh kecaman internal lantaran dirinya dianggap tidak secara langsung berperan membantu rakyatnya.

Menurut catatan PBB, Pakistan mengalami banjir terburuk dalam 80 tahun. Kini, 14 juta orang menjadi korban, 1.600 orang tewas.

Banjir akan meningkat di sepanjang Sungai Indus yang diperkirakan akan meluap. Badan Pengelola Bencana Alam mengatakan, "puncak bencana" akan terjadi minggu depan di Provinsi Punjab dan Sindh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau