Pangan

Dunia Cemaskan Krisis Pangan Baru

Kompas.com - 15/08/2010, 11:16 WIB

KOMPAS.com — Panas yang dahsyat di Rusia hingga mencapai 38 derajat celsius telah mengakibatkan kekeringan dan kebakaran. Ratusan orang meninggal dunia. Dampak lain, dunia mengkhawatirkan krisis pangan tahun 2008 terulang.

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengumumkan penghentian sementara ekspor gandum dan barley (sejenis gandum untuk pakan ternak). Rusia merupakan eksportir gandum nomor tiga dan eksportir barley nomor dua di dunia.

Harga gandum di sejumlah bursa melonjak menyusul pengumuman itu, yakni hingga 50 persen dibandingkan awal Juli lalu. Di Bursa Komoditas Chicago harga gandum naik dari 500 sen dollar AS menjadi 750 sen dollar AS per gantang pekan lalu.

Bank Dunia telah meminta sejumlah negara untuk tidak mengikuti langkah Rusia. Sebagai catatan, krisis pangan 2008 meledak karena beberapa negara menutup ekspor pangan setelah khawatir pasokan pangan mereka akan berkurang.

Kenaikan harga barley akan menaikkan harga daging sapi, daging ayam, hingga susu karena barley digunakan untuk pakan ternak. Harian Inggris, The Guardian, melaporkan, konsumen dalam waktu dekat terpaksa membeli daging dan roti dengan harga yang mahal. Harga bir pun segera naik karena harga bahan bakunya juga melonjak.

Ancaman krisis pangan ini menguat. Australia, yang merupakan eksportir gandum nomor empat di dunia, kemungkinan akan mengalami kekeringan di wilayah barat. Di negara penghasil gandum lainnya, yaitu Kanada, produksi gandum juga dikhawatirkan tidak memuaskan menyusul cuaca yang sangat basah pada saat musim tanam gandum.

Kenaikan harga gandum telah menaikkan harga komoditas biji-biji lainnya, seperti jagung dan kedelai, hingga 0,8 dan 0,2 persen. Kedua komoditas itu merupakan komoditas substitusi. Kenaikan ini bisa mendorong produk turunannya seperti minyak nabati dan juga daging.

Dampak ikutan terhadap harga beras akibat kekeringan di Rusia mungkin tidak terjadi. Akan tetapi, untuk harga beras, kenaikan harga bisa terjadi bila banjir di China, Korea Utara, dan Pakistan berdampak parah. Penurunan produksi pangan di negara itu juga bisa memicu krisis pangan. Banjir di China telah menaikkan harga beras. Sejak Juli lalu telah terjadi kenaikan harga beras 9 persen, tertinggi sejak Oktober tahun lalu.

Meski demikian, tidak sedikit yang mengingatkan kondisi di atas hanya permainan spekulan. Mereka yang mendukung pendapat ini mengatakan, ekspor gandum Rusia ditujukan untuk pasar Timur Tengah. Penghentian ekspor gandum Rusia juga tidak akan merusak pasar karena panen gandum yang melimpah terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memangkas perkiraan produksi gandum dunia dari 676 juta ton menjadi 651 juta ton. Namun, FAO menyebutkan, krisis pangan baru tidak mempunyai dasar. Menurut FAO, bila produksi gandum bermasalah hingga musim dingin tahun ini, baru akan berdampak serius pada pasokan gandum tahun depan.

Akan tetapi, gejolak harga pangan saat ini tetap saja perlu diwaspadai karena tren kenaikan harga pangan dunia juga mulai tampak. Laporan FAO sendiri pada Juli telah menyebutkan indeks harga pangan dunia mencapai 165,5. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Juli tahun lalu yang hanya 147.

Di dalam negeri, meski prakiraan produksi pangan tetap baik, kita perlu mewaspadai dampak kenaikan dari pasar pangan dunia karena Indonesia mengimpor sejumlah komoditas pangan seperti gandum, daging, dan sejumlah produk lainnya. (Andreas Maryoto)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau