Berat Badan Turun Berkat Puasa

Kompas.com - 16/08/2010, 08:00 WIB

KOMPAS.com - Waktu dan pola makan yang berubah saat menjalankan ibadah puasa, sangat mungkin menurunkan berat badan. Namun seringkali berat badan tak berubah karena pilihan makanan yang salah saat sahur dan berbuka puasa. Apalagi jika tak dibarengi olahraga teratur dengan rumusan tepat melihat frekuensi, intensitas, time, dan type (FITT).

"Banyak orang yang merasa berat badan menurun selama berpuasa namun kembali naik saat Lebaran. Alasannya, makanan di hari raya membuat berat badan kembali naik. Padahal pilihan makanan selama berpuasa yang keliru menjadi penyebab utamanya," kata spesialis kedokteran olah raga, dr Grace Tumbelaka, SpKO, kepada Kompas Female, Kamis (12/8/2010) lalu.

Menurut dr Grace, menurunkan berat badan selama berpuasa di bulan Ramadhan bisa saja berhasil, asalkan mengikuti kaidahnya:

Selalu rutin makan sahur
Usahakan untuk tidak melewati waktu sahur dengan mengonsumsi sepertiga porsi makan sehari. Ukurannya sama seperti sarapan pagi di luar bulan puasa. Tubuh memang membutuhkan cadangan energi, selama menunda makan 14 jam. Namun bukan berarti Anda harus makan lebih banyak. Sebaiknya makan dengan porsi cukup dan berhenti sebelum kenyang. Menu sahur juga perlu diperhatikan, pastikan zat gizi seimbang, dengan komposisi karbohidrat, protein, dan lemak yang tepat.

Hindari santan, lemak dan gula sederhana
Memilih menu saat berbuka puasa dan sahur prinsipnya sama, hindari makanan bersantan, berlemak, dan gula sederhana. Meski banyak pilihan makanan khas Ramadhan, seperti kolak, es buah, es sirup, dan berbagai minuman manis lainnya, sebaiknya konsumsi dalam porsi sedikit saja. Kolak misalnya, cukup makan buah pisangnya saja tanpa air gulanya. Makanan yang populer di bulan puasa mengandung gula sederhana dengan indeks glikemik (GI) tinggi.

Makanan dengan indeks glikemik (GI) tinggi mempercepat rangsangan terhadap pengeluaran hormon insulin. Insulin berfungsi mengalirkan gula dalam tubuh. Makanan yang merangsang insulin akan cepat menaikkan gula darah dan membuat tubuh mudah kembali lemas, lapar, dan cenderung makan lebih banyak. Penumpukan lemak dalam tubuh terbantukan dengan pengeluaran insulin yang cepat.

Konsumsi makanan manis dari sumber alami: buah-buahan
Kurma, pisang, dan apel, merupakan sumber makanan kaya serat dan memberikan rasa manis yang bisa menggantikan gula. Makanan manis dari buah bisa membantu tubuh untuk mencerna sekaligus memberikan asupan energi secara perlahan. Berbeda dengan makanan manis yang bersumber dari gula buatan, yang cepat memberikan efek lebih berenergi, namun secara drastis.

Kalaupun tetap merasa perlu mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung GI tinggi, batasi porsinya. Sebaliknya, seimbangkan dengan makanan mengandung GI rendah dalam porsi lebih besar. Terapkan pola makan sehat seperti ini saat sahur dan berbuka puasa.

Tetap rutin berolahraga
Berolahraga saat berpuasa tetap harus dijalankan. Jikapun mengurangi frekuensinya usahakan tetap minimal tiga kali seminggu.

Dispilin diri dan mengontrol pola makan bisa dilatih saat berpuasa. Rasanya cara ini lebih bisa menjawab apakah kelak berat badan bisa turun karenanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau