Militer China Ketinggalan Zaman

Kompas.com - 16/08/2010, 09:29 WIB

BEIJING, KOMPAS.com - Militer China (Jie Fang Jun atau Tentara Pembebasan Rakyat) dinilai ketinggalan zaman secara teknologi. Harian Tentara Pembebasan Rakyat, Minggu (15/8), menegaskan, China harus mencontoh negara lain, terutama AS, soal modernisasi militer.

Modernisasi militer China merupakan tema pokok reformasi lembaga tersebut. Militer China sudah menggunakan beberapa senjata modern seperti pesawat jet tempur super canggih.

China sudah mengurangi jumlah personel militer, yang terbesar di dunia. Pemerintah Beijing berusaha membangun angkatan perang yang efektif untuk mengantisipasi konflik dengan Taiwan yang didukung AS dan Jepang atau potensi perang langsung dengan AS.

”Namun, untuk mencapai sasaran itu, dibutuhkan keterbukaan pemikiran,” demikian hardikan harian tersebut. Isu keterbukaan pemikiran menjadi ganjalan dalam militer China yang konservatif. ”Masih kuat gaya berpikir khas Tiongkok,” ungkap harian militer itu.

China disarankan untuk berani belajar dari keterbukaan informasi dan komunikasi dengan lembaga militer asing. Harian itu menambahkan, sejarah dan kenyataan membuktikan sebuah negara yang tidak berwawasan global akan tertinggal. Lembaga militer tanpa visi global juga tidak memiliki masa depan.

Masih kalah Disebutkan, AS merupakan contoh baik dalam dua hal, yakni pengadaan persenjataan berbasis teknologi yang sudah tersedia di pasaran seperti penggunaan global positioning system (GPS) dan pelatihan untuk menyesuaikan kemampuan militer dengan teknologi terbaru.

Militer AS merekrut banyak tenaga muda dan menempatkannya dalam penugasan tempur di lapangan secara global.

Militer China terkejut melihat Perang Teluk pertama (1990-1991) karena efektivitas penggunaan peluru kendali AS untuk melumpuhkan persenjataan Irak seperti tank-tank.

Sejak saat itu, China melakukan modernisasi besar-besaran. Meski demikian, kemampuan individu masih minim.

Tahun lalu, China memamerkan peluru kendali Dong Feng (Angin Timur) 21 C yang dapat membahayakan kapal induk AS jika digunakan dalam perang. Keberadaan Dong Feng 21 C dapat menyulitkan bantuan armada AS terhadap Taiwan dalam perang terbuka. (Reuters/ONG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau