Komplikasi Demam Tifoid

Kompas.com - 16/08/2010, 13:12 WIB

Kompas.com - Demam tifoid memang merupakan penyakit infeksi yang sering dijumpai di Indonesia. Menurut surveilans Departemen Kesehatan kita, kejadian demam tifoid meningkat dari tahun 1990 yang hanya 9,2 per 10.000 penduduk menjadi 15,4 per 100.000 penduduk pada tahun 1994. Sebagian penderita memang kelompok remaja dan usia muda.

Demam tifoid disebabkan kuman, dan kuman masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman. Sebenarnya, lambung kita mampu mematikan sebagian kuman tifoid ini, tetapi jika jumlah banyak, kuman yang tak berhasil dimatikan akan beredar ke seluruh tubuh melalui darah. Timbullah gejala demam dan kadang nyeri perut. Masa inkubasi penyakit ini 10 sampai 14 hari.

Tifoid toksik

Gambaran klinis demam tifoid dapat bervariasi, dari penyakit ringan sampai penyakit yang berat. Tifoid toksik merupakan gambaran klinis yang berat. Tifoid toksik sebenarnya sudah agak jarang dijumpai, tetapi keadaan tersebut dapat terjadi karena pengaruh faktor kuman dan respons imun tubuh penderita.

Dibandingkan dengan negara tetangga, kejadian demam tifoid di negeri kita masih lebih tinggi. Mungkin ini berkaitan dengan upaya kita untuk menjaga kebersihan diri dan kebersihan makanan yang belum optimal.

Jika diperhatikan di Malaysia, Singapura, dan Thailand, pengawasan terhadap kebersihan makanan dijalankan secara teratur. Di negeri kita, banyak orang yang makan di luar rumah termasuk di kaki lima, dukungan untuk kebersihan makanan di kaki lima ini belum dijalankan dengan baik.

Di sekolah ada kantin sekolah, tetapi kebersihannya belum terjaga dengan baik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pernah melakukan pembinaan terhadap kantin sekolah di sekolah dasar di Kampung Melayu, Jakarta. Tujuannya adalah agar makanan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan gizi anak dan dihidangkan dalam lingkungan yang bersih.

Institut Pertanian Bogor juga sudah lama menggagas kantin sekolah yang sehat. Mudah-mudahan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Kesehatan dapat menindaklanjuti rintisan ini.

Masyarakat sendiri perlu mengamalkan hidup bersih. Sering mencuci tangan dan mengonsumsi makanan yang bersih, tak tercemar kuman. Salah satu kekurangan pedagang makanan di pinggir jalan adalah air bersih. Mungkin dinas kesehatan dapat membantu sehingga cemaran kuman dan virus terhadap makanan jajanan dapat dikurangi.

Vaksinasi

Setelah menderita demam tifoid, penderita akan mengalami kekebalan terhadap kuman tifoid. Namun, hanya sebagian saja penderita yang mempunyai kekebalan. Sebagian lain tidak sehingga dapat terjadi infeksi demam tifoid berulang. Untuk mencegah penularan demam tifoid, di samping hidup bersih dapat juga dilakukan vaksinasi tifoid. Dewasa ini, di Indonesia tersedia vaksin tifoid suntikan. Vaksinasi harus diulang tiap tiga tahun.

Dengan meningkatnya keinginan melakukan wisata kuliner, risiko penularan penyakit yang ditularkan melalui makanan akan meningkat. Karena itu, sudah waktunya dinas kesehatan meningkatkan kegiatan pembinaan pedagang makanan agar mampu menyediakan makanan yang bebas kuman penyakit. Di restoran yang mewah sekalipun keamanan makanan tetap harus dijaga. Para penyaji makanan hendaknya harus bebas dari kuman tifoid agar tak menularkan ke pelanggan.

Di luar negeri juga ada aturan khusus untuk menjamin keamanan makanan. Salah satu upaya para pengolah dan penyaji makanan mendapat vaksinasi demam tifoid. Peningkatan angka kejadian demam tifoid di masyarakat patut menjadi perhatian kita semua.

Kita perlu berhati-hati memilih makanan dan minuman, para pedagang menjaga makanan yang disajikan agar bersih, serta dinas kesehatan melakukan pembinaan dan pengawasan.

Dr.Samsuridjal Djauzi

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau