JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) DKI Jakarta tidak tahu tentang pengaduan orangtua mereka terkait dugaan pelecehan seksual selama masa orientasi. Mereka sengaja dikarantina agar tetap fokus menjalankan tugas Paskibra.
Kepala Bidang Kepemudaan Dinas Pemuda dan Olahraga Firmansyah mengatakan, pelabrakan orangtua siswa Paskibra terjadi pada Jumat (13/8/2010). Ketika itu, para Paskibra angkatan 2010 sedang mendapat bimbingan di Perpustakaan Nasional Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
Orangtua bertemu dengan sejumlah anggota Purna Paskibra Indonesia (PPI) yang terdiri dari anggota Paskibra senior yang diberi tugas sebagai pelaksana pembinaan Paskibra junior. "Waktu itu mereka tidak tahu. Kan mereka di dalam kelas dan tidak bisa nonton TV. Mungkin sekarang mereka tahu setelah ada beritanya," kata Firmansyah.
Para instruktur Paskibra dari PPI berusaha agar peristiwa itu tidak diketahui oleh para siswa. Tidak satu pun anggota Paskibra yang mengeluhkan pembinaan yang dilakukan selama masa karantina di Cibubur pada 2-6 Juli maupun persiapan di Perpusnas pada 13-17 Agustus.
"Kita keep soal (pelabrakan) itu supaya mereka tetap fokus saat pengibaran bendera. Coba kalau mereka tahu, bagaimana kondisi psikologis mereka saat itu," jelas Firmansyah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com, orangtua yang mengadu soal pelecehan seksual itu tidak hanya dari satu calon Paskibra, tapi tiga orang. Mereka di antaranya orangtua dua anggota Paskibra putri, satu lainnya orangtua seorang Paskibra putra. Ketiganya mengeluhkan hal yang sama, yakni adanya perintah untuk berlari dari barak tidur ke barak mandi dan sebaliknya dalam kondisi bugil.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang