Makna dalam Pernikahan Adat Batak

Kompas.com - 18/08/2010, 12:33 WIB

KOMPAS.com - Pernikahan adalah suatu hal yang sakral dan penting dalam kehidupan dua insan yang bertukar ikrar, termasuk keluarga mereka yang akan menyatu melalui kedua mempelai. Saat memutuskan untuk mengarungi kehidupan pernikahan, umumnya, kedua orangtua mempelai akan menyematkan harap untuk kedua mempelai. Setiap suku memiliki adat dan kebiasaan masing-masing. Tak terkecuali dalam adat Batak. Dalam pernikahan adat Batak, ada banyak tata aturan dan simbol. Dalam simbol-simbol tersebut, tersemat harap dan doa dari keluarga, kerabat, dan handai taulan.

Menurut Ibu Martha, pendiri wedding organizer Martha Ulos, "Dalam prosesi perkawinan Batak diusahakan untuk memperlihatkan simbol yang disajikan secara artistik dengan perpaduan unsur seni gorga Batak, seni tenun Ulos Batak, seni vokal, seni gerak tari, dan perangkat-perangkat perkawinan Batak." Hal-hal kesenian tersebut terlihat dan diperagakan oleh Martha Ulos dalam acara Mahligai Megah Nusantara yang dilangsungkan di Hotel Shangri La beberapa waktu lalu.

Dijelaskan oleh Ibu Martha, dalam prosesi pernikahan budaya Batak, ada beberapa simbol yang dipergunakan. Berikut adalah beberapa hal umum di antaranya:

* Tunggal Panuluan
Merupakan tongkat pusaka yang biasa dipakai saat Martonggo berdoa untuk memohon berkat kepada Sang Khalik.

* Ampang Jual Sibuhai-buhai
Merupakan hantaran keluarga dari mempelai lelaki pada saat menjemput mempelai wanita. Didalamnya terdapat makanan adat yang akan dimakan bersama oleh keluarga mempelai wanita dan keluarga mempelai laki-laki (Suhut Bolon) sebelum acara besar adat dimulai.

* Tandok Boras Sipirnitondi
Merupakan simbol yang dibawa oleh pihak hula-hula (keluarga mempelai perempuan) dalam sistem kekerabatan Dalihan Natolu Batak. Golongan hula-hula adalah golongan yang diberi kedudukan terhormat, saluran berkat kepada keluarga Boru (mempelai laki-laki). Golongan yang lain dalam Dalihan Natolu adalah Dongan Sabutuha dan Boru. Boras sipirnitondi artinya adalah beras restu. Biasanya dibawa oleh penari, ditaruh di atas kepala dalam sebuah wadah dari rajutan jerami.

* Pinggan Pasu Panungkunan
Piring adat untuk memulai pembicaraan adat perkawinan Batak yang disampaikan juru bicara (raja parhata) keluarga mempelai wanita, berisi beras, sirih, dan uang 4 lembar.

* Ulos Hela (Ulos mempelai laki-laki)
Simbol perkawinan Batak yang paling tinggi nilainya. Diselimutkan oleh orangtua mempelai wanita kepada kedua mempelai pada saat acara berlangsung. "Saat pemberiannya pun tidak boleh sembarangan. Tangan yang memberikan harus bersentuhan dengan yang diberikan. Sebagai restu dan hangat orangtua kepada keduanya. Ulosnya disatukan tepat ditengah-tengah, di depan kedua mempelai," jelas Ibu Martha kepada Kompas Female. Pada prosesinya, Ayah yang akan menyelimutkan ulos ini akan berkata-kata dan memberikan wejangan kepada kedua mempelai, menjelaskan makna dari ulos tersebut.

* Tempat Sirih Bermote
Biasanya, sebelum upacara dimulai, keluarga mempelai wanita menawarkan Sekapur Sirih kepada keluarga mempelai laki-laki.

Pada acara pertunjukkan tersebut, terdapat beberapa tarian yang mengiringi prosesi, diiringi lagu-lagu tradisional. Diterangkan oleh Charles Bonar Sirait, selaku MC pada acara pertunjukkan tradisional tersebut, prosesi semacam ini biasanya sudah dimodifikasi dan dipersingkat. Dalam prosesi adat semacam ini, terlihat betapa melepaskan anak dalam pernikahan adalah hal yang cukup penting. Lewat tari-tarian, prosesi, dan simbol-simbol, terlihat hal tersebut.

Tak ada salahnya untuk mengenal adat-adat yang ada di Indonesia. Seperti ungkap Diany Pranata Chandra, pimpinan umum acara pameran pernikahan Mahligai Megah Nusantara, "Kalau kita tidak menjaga dan memperkenalkan adat-adat tradisional ini sebagai milik kita, bisa-bisa diklaim oleh orang lain."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau