JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat pasar uang Krisna Dwi Setiawan mengatakan, nilai tukar rupiah yang dipatok Rp 9.300 per dollar AS berdasarkan asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2011 dinilai masih rasional. "Pematokan rupiah sebesar Rp 9.300 per dollar pada 2011 masih masuk akal, namun patokan itu harus disesuaikan apabila ada perubahan lain," katanya di Jakarta, Rabu (18/8/2010). Krisna Dwi Setiawan mengatakan, patokan rupiah pada level Rp 9.300 masih merupakan angka positif, meski secara kualitas rupiah mengalami penurunan dibanding harga saat ini. "Penetapan rupiah itu masih tidak jauh dibanding dengan posisi saat ini," ujarnya. Nilai tukar rupiah yang bahkan mengalami penguatan, menurut dia, karena merosot dollar AS secara global. Namun, kestabilan nilai tukar itu terutama karena kuatnya kepercayaan para pelaku pasar terhadap kinerja perekonomian Indonesia. "Hal ini juga karena penilaian berbagai lembaga pemeringkat internasional yang terus membaik," ucapnya. Meski rupiah membaik, lanjut dia, laju inflasi 2010 diperkirakan meningkat akibat kenaikan harga komoditas.
Mengenai pertumbuhan ekonomi 6,3 persen, menurut dia, ekonomi Indonesia seharus bisa tumbuh lebih tinggi karena investor asing masih akan bermain di pasar domestik, namun pada 2014 ekonomi dipatok hanya 7 persen. "Padahal pertumbuhan ekonomi pada 2011 akan semakin baik," katanya.
Ia mengatakan, posisi rupiah saat ini mencapai Rp 8.960 per dollar AS, namun penguatan rupiah kurang mendukung produk Indonesia di pasar ekspor. "Karena itu, pemerintah berupaya melalui Bank Indonesia (BI) menekan rupiah agar di atas Rp 9.000 per dollar AS," ucapnya. Pelaku pasar khususnya asing membeli rupiah karena terpicu oleh membaiknya saham-saham Wall Street yang mendorong bursa regional membaik. "Meski demikian, posisi rupiah dalam rentang waktu yang tidak lama akan kembali menuju ke level Rp 9.000 per dollar AS sebagaimana yang dikehendaki pemerintah," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang