Petugas Tilang 20 Angkot Beriklan

Kompas.com - 18/08/2010, 13:29 WIB

BEKASI, KOMPAS.com — Sedikitnya 20 angkutan kota terkena tilang ketika aparat Dinas Perhubungan Kota Bekasi melakukan penertiban terhadap angkot yang beriklan melebihi batas ketentuan dan pemasangannya tanpa izin dari instansi terkait.

"Kami sudah melakukan penertiban dengan menilang angkot yang melanggar aturan, sementara bagi yang ilegal persyaratannya harus dilengkapi sebelum diperkenankan memasang iklan," kata Kepala Dishub Kota Bekasi, Agus Dharma, Rabu (18/8/2010).

Dia mengatakan, ada angkot yang lebih dari 60 persen badannya dipenuhi iklan sehingga trayek dan nomor angkotnya tidak lagi jelas terlihat.

Untuk denda yang dikenai, menurut Agus mengacu pada aturan Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. Adapun besaran nilainya, hakim yang memutuskannya.

Iklan yang banyak bermunculan di angkot itu adalah promosi tentang obat-obatan maupun minuman energi. Jalur trayek meliputi K-02 rute Pondok Gede-Terminal Kota Bekasi, K25 Pulo Gebang-Terminal Kota Bekasi, dan K12 Bantar Gebang-Terminal Kota Bekasi.

Agus mengatakan, pihaknya hanya memberikan rekomendasi izin pemasangan iklan untuk 20 mobil iklan minuman energi rute Pondok Gede-Bekasi.

Pada praktiknya ada banyak mobil di tiga rute yang juga memasang iklan tanpa pernah diberi izin dan rekomendasi pihak Dishub sehingga daerah dirugikan dari sisi pemasukan pendapatan asli daerah (PAD).

Aparat Dishub juga akan memanggil pemilik iklan dan mempertanyakan izin pemasangannya serta retribusi yang mereka bayar kepada Badan Pengelolaan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bekasi.

"Kami melihat ada mobil yang telah berubah identitas, trayeknya tidak jelas, serta menghalangi pandangan pengemudi, terutama mengetahui kendaraan di belakangnya," ujar Agus.

Pemasangan iklan di badan mobil, menurut Agus, diperkenankan dengan beberapa ketentuan yang harus dipenuhi dan penumpang juga belum pernah melaporkan adanya keberatan atas iklan di badan mobil.

Dari aspek kelaikan jalan, mobil yang dipasangi iklan di badannya bila mematuhi ketentuan layak dioperasikan. "Selama ini kasus kecelakaan lalu lintas pada angkutan kota dengan badan mobil dipenuhi iklan belum ada," ujarnya.

Seorang pengemudi angkot K02 Pondok Gede-Bekasi, Manalu (43), mengaku tidak tahu-menahu dengan pemasangan iklan di badan mobil angkot yang dikemudikannya.

"Saya cuma mengemudi dan dibebani setoran setiap hari. Pemasangan iklan di badan mobil urusan pemilik dengan si pemasang iklan," ujarnya dengan logat Batak.

Hampir seluruh badan angkot dipasangi iklan obat sakit perut bermerek Tay Ping San,  termasuk kaca belakang. Akibatnya, untuk melihat kendaraan dari belakang ia menggunakan kaca spion di kiri dan kanan badan mobil, sementara dari kaca spion di atas kepalanya terhalang iklan.

Manalu mengaku pernah mengeluhkan kepada pemilik mobil, tetapi belum ada tanggapan. "Kalau sudah dibilang dan tidak ditanggapi apa boleh buat. Bila kecelakaan, saya kan bisa berkelit," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau