Blokir Situs Porno Paling Ampuh dari Diri Sendiri

Kompas.com - 18/08/2010, 14:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Tifatul Sembiring, menyatakan senjata paling ampuh dalam memblokir situs porno adalah dengan memfilternya dari dalam diri sendiri. Hal ini karena cara pemblokiran dengan teknologi tidak akan bisa memberantas seluruh konten negatif.

"Tiap hari pasti ada saja situs yang baru. Jadi, kalau saya pribadi yang paling ampuh adalah filter dari dalam diri. Dengan begitu, pasti bisa memfilter seluruhnya," ujar Tifatul, Rabu (18/8/2010), dalam Talkshow Internet Sehat, di Gedung Indosat, Jakarta.

Menurutnya, sebelum mengeluarkan kebijakan pemblokiran situs dengan konten negatif, pemerintah masih membiarkan masyarakat untuk menumbuhkan kesadarannya sendiri.

"Tapi makin lama justru bablas jadi pemerintah turun tangan dengan tiga pendekatan yakni teknologi, hukum, dan sosio kultural," ujar Tifatul.

Dari bidang teknologi, pemerintah mengeluarkan beberapa program seperti ID-CERT (Computer Emergency Response Team) untuk mendeteksi kejahatan dunia maya serta pelaksanaan ICT Award untuk pengembangan konten positif.

"Lalu juga ada program internet sehat Perisai, Nawala Project yang digagas AWARI yang mampu memblokir konten negatif," ungkap Menkominfo.

Sejumlah upaya hukum juga sudah dilakukan pemerintah terutama melalui UU Informasi dan Transaksi Elektronik dan UU Pornografi. Sementara di bidang sosio kultural, pemerintah melakukan sosialisasi program INSAN (Internet Sehat Aman).

Akan tetapi, lagi-lagi Menkominfo menegaskan bahwa semua program ini berujung kembali pada kesadsaran setiap individu. Adapun, data pengguna internet dari hari ke hari terus meningkat.

Tahun 1998, data pengguna internet masih dibawah 200 juta. Sekarang, sudah lebih dari 1,9 M pengguna internet di seluruh dunia. Sebanyak 30% dari pengguna internet tersebut, tercatat pernah mengalami pelecehan seksual yang terjadi akibat internet.

Di Indonesia sendiri, pengguna internetnya sebanyak 30 juta, dan 64% di antaranya berasal dari golongan remaja. "Maka dari itu, kampanye menggunakan internet sehat dan aman, jadi agenda penting mengingat pertumbuhan internet sangat pesat terutama di kalangan remaja yang rentan terkena tindak kejahatan," tegas Menkominfo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau