Indikator

Bus Masih Menjadi Primadona Pemudik

Kompas.com - 18/08/2010, 16:33 WIB

Animo masyarakat terhadap angkutan umum pada setiap musim mudik Lebaran mengharuskan pemerintah mempersiapkan infrastruktur transportasi yang laik dan aman untuk digunakan. Salah satu infrastruktur yang cukup vital untuk mengangkut warga yang hendak mudik adalah kendaraan, baik darat, laut, maupun udara.

Dari sekitar empat juta pemudik yang masuk ke Jawa Tengah, 50 persennya menggunakan angkutan umum. Pemudik dengan kendaraan umum tersebut sekitar 33 persen memanfaatkan jasa angkutan bus, 14 persen dengan kereta api, 2 persen pesawat terbang, dan sisanya dengan kapal laut.

Tingginya animo pemudik ini menyebabkan perusahaan otobus berusaha mengoperasikan semua armadanya. Hingga tahun 2008, Bus AKAP, Bus AKDP, dan bus cadangan yang jumlahnya tercatat lebih dari 10.000 unit dioptimalkan operasinya untuk mengangkut penumpang.

Boleh jadi, animo masyarakat menggunakan bus dimotivasi oleh harganya yang bervariasi, ketersediaan armada, dan pelayanan rute bisa menjangkau hampir seluruh wilayah Jateng. Kelebihan armada bus ini tampaknya akan kembali dilirik oleh calon pemudik untuk Lebaran tahun ini. Kondisi ini membuat proporsi penumpang angkutan umum masih didominasi oleh bus. (IWN, Litbang Kompas)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau