Perampokan Bersenjata

Kompas.com - 19/08/2010, 03:35 WIB

Medan, Kompas - Perampok bersenjata yang diperkirakan berjumlah 16 orang beraksi di Bank CIMB Niaga di Jalan Aksara Nomor 56, Medan, Sumatera Utara, Rabu (18/8) pukul 11.30 WIB. Dalam insiden ini seorang polisi yang bertugas di bank tersebut, Brigadir Satu Immanuel Simanjuntak (28), tewas ditembak. 

Informasi yang diperoleh di lapangan, perampok menggunakan sepeda motor jenis bebek. ”Enam kendaraan diparkir di luar bank, sisanya berjaga-jaga di seberang jalan,” ujar pemilik ruko di Jalan Aksara yang tak bersedia disebutkan namanya.

”Saya tidak tahu itu perampokan, saya pikir nasabah biasa,” ujarnya.

Pakaian para perampok tergolong rapi, seperti pekerja kantoran. Beberapa orang membawa tas, layaknya seorang sales. Seorang di antaranya bahkan membawa tas gitar, seperti pemain musik. Tas gitar itu diperkirakan berisi senjata api.

Saksi lain, Taufik (35), mengatakan, perampok memakai helm dan bersepatu rapi. Mereka rata-rata berperawakan tinggi dan terkesan gagah.

Setelah memarkir sepeda motor, enam orang diperkirakan masuk ke dalam bank, sedangkan enam lainnya berjaga di halaman bank sambil mengacungkan senjata api ke arah jalan. Beberapa warga mengaku ketakutan dengan aksi mereka.

”Warga yang mau melintas pun memilih berhenti melihat banyak orang membawa senjata. Awalnya, saya kira mereka polisi,” kata Herwin (35), yang saat kejadian berada di bengkel, sekitar 20 meter dari Bank CIMB Niaga yang dirampok.

Menembak

Saat masuk ke dalam bank, seorang yang mengenakan jaket hitam dan berhelm menembak Immanuel Simanjuntak, petugas kepolisian yang bertugas di sana. Sejumlah warga mengatakan bahwa mereka mendengar lebih dari dua kali suara letusan senjata api.

Perampokan bersenjata yang berlangsung sekitar 20 menit itu membuat pemilik toko dan karyawan toko di sekitar lokasi kejadian keluar akibat mendengar bunyi letusan.

Namun, perampok yang berada di luar bank, sambil tetap mengacungkan senjata, memaksa mereka yang berupaya melintasi jalan sekitar itu terus melaju. Sementara, nasabah yang hendak ke bank tetap diperbolehkan masuk. Setelah menggasak uang sekitar Rp 200 juta, perampok kabur dengan sepeda motornya.

Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Inspektur Jenderal Oegroseno mengatakan, perampok tersebut sudah terlatih dan terkoordinasi. Itu bisa dilihat dari cara mereka merampok, termasuk menggunakan senjata api.

”Mereka mengobrak-abrik kantor dan memasuki semua lantai. Mereka sudah terlatih. Kalau menggunakan senjata api, biasanya mereka ini pelaku lama,” tutur Oegroseno.

Ia menyayangkan bagian depan kantor bank tidak dilengkapi circuit closed television (CCTV). ”Polisi segera membentuk tim khusus untuk mengejar pelaku,” kata Oegroseno. (MHF/WSI)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau