Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes, Kamis (19/8), menilai, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Komite Olimpiade Indonesia (KOI) itu belum diputuskan dalam rapat pleno anggota. Wakil PSSI, Max Boboy, menandatangani AD/ART itu dalam kapasitas sebagai tim perumus.
”Waktu itu kami mengajukan keberatan soal pasal tersebut dan minta dihilangkan. Tetapi kemudian aturan itu tetap ada dan disahkan tanpa melalui rapat pleno,” ujar Nugraha.
AD/ART KOI yang disahkan pada 4 Juni 2010 dan kini sudah dikirim ke Komite Olimpiade Internasional (IOC) itu mengatur syarat anggota pengurus pusat atau pengurus besar organisasi olahraga nasional tidak pernah tersangkut perkara pidana dan dijatuhi hukuman penjara.
”Kami akan mengajukan surat keberatan kepada KOI seperti yang dilakukan oleh PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia),” ujar Nugraha.
PSSI, lanjut Nugraha, tidak akan mengikuti aturan itu jika keberatan ditolak oleh KOI. PSSI akan tetap berkiblat pada statuta FIFA.
Ketua Komisi Hukum dan Keolahragaan Timbul Thomas Lubis menegaskan, ART KOI itu sudah diputuskan dan disahkan oleh tim. Ia tidak akan menghalangi jika PSSI ingin mengajukan surat keberatan.
”Terserah saja mereka mau apa,” tegas Timbul.
Pada kesempatan sebelumnya, Timbul menjelaskan bahwa AD/ART telah disetujui secara aklamasi. Aturan itu berlaku sejak ditetapkan pada 4 Juni 2010.
Aturan ini akan menghalangi Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dan Ketua Pengurus Besar PASI Bob Hasan untuk mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi ketua periode berikutnya. Masa kepengurusan PSSI berakhir 2011 dan PB PASI pada 2012.
Mantan Ketua Umum PSSI Agum Gumelar di sela-sela peluncuran kontrak siaran langsung Liga Primer oleh jaringan televisi MNC Group menilai, jika aturan itu memang ada, sebagai organisasi yang tertib aturan, PSSI harus mematuhinya. Jika tidak mematuhi aturan KOI, konsekuensinya besar.
Konsekuensi yang dimaksud oleh Agum adalah KOI bisa menskorsing organisasi olahraga nasional yang tidak mematuhi aturan dalam bentuk larangan ikut serta dalam gelaran olahraga multicabang, seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.
Agum melontarkan introspeksi bahwa dirinya dulu menjabat ketua umum PSSI dua periode dengan prestasi dua kali peringkat kedua Piala Tiger tahun 2000 dan 2002. Salah satu alasan ia mundur adalah prestasi sepak bola yang dua kali gagal menjadi juara Piala Tiger.
Tokoh sepak bola Indonesia, Sinyo Aliandoe, dalam kesempatan terpisah menilai, pengurus PSSI harus mengedepankan nurani jika ingin memperbaiki sepak bola nasional. Saat ini, sepak bola nasional tidak bisa dibanggakan lagi karena prestasinya terpuruk.
”Jika saya menjadi Pak Nurdin, saya sudah malu dan mengundurkan diri,” ujar Sinyo.
AD/ART KOI dinilai oleh Sinyo menjadi penguat atas keinginan masyarakat sepak bola Indonesia yang menginginkan perbaikan sepak bola nasional. Salah satunya melalui perombakan pengurus PSSI.