Tim nasional

Boaz dan Kabes Diancam Sanksi

Kompas.com - 20/08/2010, 04:11 WIB

Jakarta, Kompas - Boaz Solossa dan Ian Louis Kabes, yang dicoret dari pemusatan latihan tim nasional sepak bola karena mangkir dalam tiga kali latihan selama bulan Ramadhan ini, terancam sanksi disiplin dari PSSI. Sanksi akan dijatuhkan jika PSSI sudah menerima laporan resmi dari Badan Tim Nasional.

”Dipanggil sebagai pemain nasional tetapi tidak ada jawaban atau tidak memenuhi panggilan, itu pasti kena sanksi,” ujar Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes, Kamis (19/8).

Nugraha menjelaskan, Boaz dan Kabes masih diberi kesempatan ikut pemusatan latihan (TC) kedua pada Oktober. Jika masih tidak memenuhi panggilan kedua itu, pemain yang mangkir akan dijatuhi sanksi disiplin. PSSI akan menjatuhkan hukuman setelah menerima laporan dari Badan Tim Nasional (BTN). Laporan tersebut akan menjelaskan kenapa pemain yang dipanggil tak memenuhi panggilan itu.

”Kalau sengaja tak memenuhi panggilan, akan kena sanksi disiplin,” ujar Nugraha.

Boaz dan Kabes, lanjut Nugraha, belum bisa dihubungi. Bahkan, Pengurus Provinsi (Pengprov) PSSI Papua pun tidak tahu keberadaan kedua pemain itu.

Namun, Sekretaris Umum Pengprov PSSI Papua Usman Fakaubun saat dihubungi oleh wartawan dari Jakarta mengatakan, Boaz ada di Jayapura. Bahkan, penyerang yang musim lalu membela Persipura Jayapura itu sempat ikut bermain dalam sebuah kompetisi sepak bola lokal.

”Saya juga tidak tahu kalau kedua pemain itu dipanggil timnas karena kami tidak menerima surat pemanggilan mereka,” ujar Usman.

Sementara informasi dari salah satu sumber yang dekat dengan kedua pemain itu, posisi Boaz memang berada di Jayapura menunggui anaknya yang sakit dan Kabes berada di Serui.

”Kalau sampai seorang pemain tidak memenuhi pemanggilan timnas, itu perbuatan bodoh,” ujar Nugraha.

Pelatih timnas sepak bola Indonesia, Alfred Riedl, seusai sesi latihan hari keempat menolak berkomentar tentang Boaz dan Kabes. Ia menegaskan, pihaknya fokus pada 24 pemain yang menjalani pemusatan latihan.

Pelatih asal Austria itu masih melakukan latihan-latihan variasi umpan, kerja sama tim, dan pola-pola serangan serta pertahanan. Saat latih tanding, gelandang Imanuel Wanggai yang cedera engkel kaki kiri belum diikutkan berlatih. Pemain asal Papua ini masih menjalani latihan ringan.

Firman Utina juga mengalami cedera engkel kaki kanan saat menjalani latihan hari keempat di Lapangan C Senayan pada Kamis sore. Pemain pada posisi gelandang serang ini merupakan salah satu motor pendobrak pertahanan lawan.

Riedl menargetkan timnya menjalani laga uji coba melawan dua klub lokal saat Ramadhan. Laga itu akan digelar di Jakarta.

Mengenai latih tanding internasional melawan Argentina dan Brasil, Nugraha belum bisa memastikan jadwalnya. Ia masih menunggu konfirmasi dari Ketua BTN Iman Arif. (ANG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau