WASHINGTON DC, JUMAT - Pemerintah Amerika Serikat meyakinkan Israel bahwa Iran belum mampu mengembangkan senjata nuklir, paling tidak sampai satu tahun ke depan. Pernyataan AS itu diharapkan bisa menahan Israel untuk tidak menyerang Iran dalam waktu dekat.
”Kami memperkirakan mereka (Iran) paling tidak butuh waktu satu tahun lagi. Satu tahun itu waktu yang sangat lama,” tutur Gary Samore, penasihat utama Presiden Barack Obama untuk urusan nuklir, dalam sebuah artikel yang dimuat harian The New York Times edisi Jumat (20/8).
Israel selama ini yakin Iran sudah bisa membuat bom nuklir dalam hitungan bulan. Israel berulang kali mengancam akan menyerang instalasi nuklir Iran karena dianggap mengancam keamanan dalam negeri Israel.
Akan tetapi, data intelijen yang dikumpulkan AS sepanjang tahun lalu dan laporan dari para pemeriksa internasional menunjukkan, Iran masih butuh waktu lama untuk memperkaya stok uraniumnya ke taraf kualitas yang cukup untuk dijadikan senjata nuklir.
Belum jelas benar apakah kendala yang dihadapi Iran itu terkait desain centrifuge (alat pengaya uranium) yang buruk, kesulitan mendapatkan komponen yang dibutuhkan, atau karena langkah sabotase yang dilakukan negara-negara Barat terhadap program nuklir Iran.
The New York Times menengarai, AS bersama Israel dan Eropa sudah bertahun-tahun menghalangi proses pengayaan uranium yang dilakukan Iran dengan cara menyabotase perangkat centrifuge tersebut.
Bahkan, jika Iran tetap ngotot meneruskan program nuklirnya untuk membuat senjata, AS yakin para pemeriksa internasional akan bisa mendeteksinya dalam hitungan minggu sehingga masih tersedia banyak waktu bagi Israel dan AS untuk merancang serangan militer.
Hingga saat ini Iran telah memproduksi sedikitnya 5.730 pon (2.435,79 kilogram) uranium berkadar tinggi, yang diperkirakan cukup untuk membuat dua bom nuklir. Iran bersikeras stok uranium itu akan digunakan untuk program nuklir damai.
Dari Seoul dilaporkan, Pemerintah Korea Selatan menghadapi dilema dalam menentukan sikap terhadap Iran terkait ajakan AS menerapkan sanksi ekonomi kepada Iran dalam rangka menghentikan ambisi nuklir negara di Teluk Persia itu.
Di satu sisi, Korsel sangat membutuhkan peran AS untuk menggertak Korea Utara agar menghentikan pengembangan senjata nuklirnya. Namun, di sisi lain, Korsel membutuhkan minyak bumi dari Iran.
Iran memasok hingga 10 persen kebutuhan minyak bumi di Korsel. Iran juga menjadi pasar yang sangat besar bagi industri otomotif dan elektronik Korsel. Jika Korsel ikut menerapkan sanksi, semua itu bisa berantakan.