JAKARTA, KOMPAS.com- Untuk mendapatkan karpet berkualitas, Anda tak perlu beli mahal. Anda bisa mengunjungi pasar karpet impor bermutu asal Belgia di Pasar Gembrong, Prumpung, Jakarta Timur.
"Harganya boleh diadu dengan yang dijual di Pasar Tanah Abang," kata pedagang karpet, Yudi (28), Sabtu (21/8/2010), saat ditemui di lapaknya, Jl Basuki Rahmat, Jatinegara, Jakarta Timur.Posisi lapaknya tepat saat kendaraan Anda keluar dari Terowongan By Pass Cawang-Tanjung Priok arah menuju Duren Sawit atau Klender.
Yudi mengaku harga yang ia tawarkan lebih murah dari Tanah Abang. Tapi, ada sebagian jenis yang harganya lebih mahal. "Itu semua tergantung dari paham tidaknya calon konsumen terhadap karpet jualannya," paparnya.
Produk buatan Belgia yang dijajakannya itu cukup bervariasi. Sebut saja, jenis Aloha dijual Rp 650.000 per 150 x 150 cm dan Persia seharga Rp 300.000 per 120 x 160 cm. "Karpet mushola dijual Rp 500.000 per lebar 5 m," jelas warga RW 2 Kelurahan Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara itu.
Setiap hari Yudi mampu menjual 4 lembar karpet. "Minimal 5 lembar karpet terjual, saya akan mendapat komisi. Komisinya cukuplah untuk keluarga di rumah."
Menurut pengamatan, pasar karpet di Prumpung ini tidak dilengkapi atap. Hal ini disebabkan oleh adanya aturan dari Tramtib Kecamatan Jatinegara yang melarang pendirian tenda atau penggunaan terpal di tepi jalan. Untuk mengantisipasi hujan, pedagang menyiapkan plastik berukuran besar supaya bisa menutupi karpet.
Ujang Wibowo, pedagang yang pertama kali menjual karpet di Pasar Gembrong mengatakan, semua pedagang karpet di wilayahnya hanya menjual karpet impor. "Karpet lokal buatan Bandung dan Cileungsi justru harganya mahal. Padahal, kualitasnya sama dengan produk luar negeri. Orang kita memang lebih gengsi dalam menentukan harga," tuturnya.
Bahkan, Ujang membenarkan ada sejumlah toko karpet di Jakarta yang membeli karpet di tempatnya, kemudian menjualnya kembali dengan harga yang berlipat-lipat. Pasar karpet yang buka tiap hari pukul 08.00 WIB hingga menjelang Maghrib itu ramai diburu pembeli hampir setiap jamnya.
"Saya sih ingin buka 24 jam, tapi kita namanya manusia kan perlu istirahat," kata Yudi yang mengambil barang dagangan dari gudang yang berlokasi di Pos 8 Pelabuhan Tanjung Priok.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang