Flu burung

Masyarakat Jangan Panik, Harap Waspada

Kompas.com - 22/08/2010, 20:12 WIB

SINTANG, KOMPAS.com - Kasi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Sintang, Darmadi meminta masyarakat tidak panik dalam menghadapi flu burung.

"Kewaspadaan memang harus ditingkatkan, tapi kalau kepanikan yang melanda maka kita sulit untuk mengatasinya bersama," katanya, Minggu (22/8/2010).

Peran penyuluhan memang diperlukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap flu burung.

"Dan saat ini penyuluhan dan sosialisasi sudah hampir tiap hari kami laksanakan di sejumlah kawasan di Kecamatan Sintang," katanya.

Menurutnya, penyebab flu burung adalah virus influenza tipe A yang dapat berubah bentuk dan menyebabkan epidemi dan pandemi, yang paling ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe H5N1.

"Virus itu kata dia dapat bertahan hidup di air sampai empat hari pada suhu 22 derajat celcius dan lebih dari 30 hari pada suhu nol," katanya.

Ia mengatakan virus mudah mati melalui pemanasan 60 derajat celcius selama 30 menit atau 56 derajat celsius selama 3 jam.

"Selain itu bisa juga dengan detergent, desinfektan atau cairan mengandung iodine," katanya.

Sedangkan gejala yang tampak pada unggas adalah jengger berwarna biru, borok di kaki dan kematian mendadak.

"Sedangkan pada manusia mengakibatkan demam dengan suhu mencapai 38 derajat celcius, batuk dan nyeri tenggorokan, radang saluran pernafasan atas, pneumonia, infeksi mata dan nyeri otot," katanya.

Flu burung menular dari unggas ke unggas dan dari unggas ke manusia. Selain itu penyakit dapat menular melalui udara yang tercemar vurus H5N1 yang berasal dari kotoran unggas yang menderita flu burung.

"Penularan dari unggas ke manusia juga dapat terjadi jika manusia telah menghirup udara yang mengandung virus flu burung atau kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung," jelasnya.

Namun hingga kini belum ada bukti yang menyatakan bahwa virus flu burung dapat menular dari manusia ke manusia dan menular melalui makanan.

Untuk mencegah penularan lebih jauh, ada baiknya unggas yang tertular dimusnahkan dan memberikan vaksin pada unggas sehat.

Pada manusia terutama kelompok beresiko seperti pedagang ayam atau pekerja di peternakan, pencegahan menurutnya bisa dilakukan melalui cuci tangan menggunakan desinfektan dan mandi sehabis bekerja, menghindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi serta menggunakan alat pelindung diri ketika bekerja.

"Tinggalkan pakaian kerja di tempat kerja, bersihkan kotoran unggas setiap hari dan imunisasi," kata dia.

Sementara masyarakat umum bisa menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan yang bergizi dan istirahat cukup.

Jika ingin memakan unggas, pilih yang sehat dan masak sampai suhu sekitar 80 derajat celcius selama satu menit dan untuk telur pada suhu 64 derajat celcius selama 4,5 menit.

"Intinya jangan takut untuk mengkonsumsi ayam dan telur karena itu adalah salah satu sumber gizi utama kita," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau