Teknologi informasi

Potensi Industri Konten Multimedia Masih Tinggi

Kompas.com - 24/08/2010, 03:37 WIB

Tangerang Selatan, Kompas - Besarnya jumlah telepon seluler yang beredar dan tingginya angka akses internet melalui telepon seluler di Indonesia membuat pangsa pasar industri konten multimedia sangat tinggi. Sayangnya, sebagian besar pemain industri konten itu adalah pihak asing.

”Industri konten di Indonesia masih sangat lemah,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dalam Kuliah Perdana Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bertajuk ”Peluang Industri Kreatif di Era Mobile Lifestyle” di Serpong, Tangerang Selatan, Senin (23/8).

Ia mencontohkan banyaknya saluran televisi berbayar asing yang isinya juga dibuat oleh asing. Padahal, Indonesia memiliki potensi budaya yang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan bagi industri konten.

Hadir dalam acara tersebut pendiri UMN sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama, Rektor UMN Yohanes Surya, serta sejumlah pembicara dari dalam dan luar negeri.

Konten multimedia adalah materi pada perangkat bergerak yang di antaranya dapat diakses melalui ponsel atau internet. Jenisnya bermacam-macam, mulai dari nada dering, game, berita, informasi produk, kartu ucapan, cuplikan video, hingga film.

Sebagian besar pemain industri konten di Indonesia adalah perusahaan asing. Jumlah perusahaan pengembang konten multimedia di Indonesia masih sangat terbatas.

Wakil Direktur Bisnis Kompas Eddy Taslim mengatakan, peluang industri konten itu seharusnya dimanfaatkan para pelaku teknologi komunikasi dan informatika. Indonesia tidak boleh hanya menjadi negara pengguna konten, tetapi juga harus mampu mengembangkan konten sesuai kebutuhan pasar.

Sementara itu, pendiri Mobile Monday Indonesia, Andy Zain, mengatakan, pangsa pasar konten akan terus naik seiring bertambahnya penggunaan ponsel.

Saat ini 67 persen masyarakat dunia sudah menggunakan ponsel. Pertumbuhan penggunaan ponsel itu empat kali lebih tinggi dari pertumbuhan pengguna internet dan tiga kali lipat dari pertumbuhan televisi.

Tiga besar dunia

Menurut Andy, akses internet lewat ponsel di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Bahkan dalam akses sejumlah game dan jejaring sosial, akses pengguna ponsel dari Indonesia termasuk tiga besar dunia. ”Sekarang dengan ponsel Rp 400.000, orang sudah bisa berinternet dengan banyak pilihan,” katanya.

Masyarakat Indonesia menyenangi konten yang bersifat lokal serta kontekstual sesuai dengan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, aplikasi dengan bahasa Indonesia umumnya banyak penggunanya dan aplikasi yang canggih dan lengkap justru kurang diminati.

Di Indonesia, jumlah ponsel yang beredar mencapai lebih dari 150 juta dan sekitar 20 persennya digunakan untuk akses internet. Sebanyak 80 persen ponsel baru di pasaran dapat digunakan untuk mengakses internet langsung.

Akses internet lewat telepon seluler lebih diminati karena belum memadainya infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi berbasis kabel. Bahkan, sejumlah operator telepon seluler menawarkan harga akses internet yang lebih murah dibandingkan akses internet melalui kabel.

Kepala Alliances South East Asia, Research In Motion, Johan D Kremer mengatakan, 25 persen pelanggan Blackberry di Indonesia mengunduh aplikasi pesan singkat dan jejaring sosial. Aplikasi lain yang banyak peminatnya adalah aplikasi tematis, game, dan hiburan. (MZW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau