Skandal perselingkuhan anggota dprd jombang

Sang Istri Simpan Ratusan SMS Mesum

Kompas.com - 25/08/2010, 11:35 WIB

JOMBANG, KOMPAS.com — Perselingkuhan Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) DPRD Jombang Ahmad Tohari (44) dengan Nita Savitri (28), mantan pembantu rumah tangganya, terus bergulir. Ternyata, tak hanya foto-foto hot Nita yang ditemukan Endang Ekowati (43), istri sah Ahmad Tohari. Endang yang sehari-hari bekerja sebagai PNS Pemkab Jombang ini juga menemukan dan menyimpan ratusan layanan pesan singkat (short message service/SMS) bernada mesum, yang sebelumnya tersimpan di ponsel Tohari.

Skandal perselingkuhan Tohari terkuak setelah Endang menemukan 11 foto hot Nita di ponsel Tohari. Endang pun menggugat cerai ke Pengadilan Agama Jombang. Sidang pertama sudah dilaksanakan 18 Agustus lalu.

Ratusan SMS itu diduga merupakan komunikasi antara Nita dan Tohari. Informasi itu disampaikan Ketua PAC Partai Demokrat Ngusikan, Ahmad Baidowi.

“SMS itu masih disimpan istri Pak Tohari, dan kelak akan dijadikan bukti penguat saat sidang gugatan perceraian,” katanya.

Baidowi mengaku pernah membaca ratusan SMS dua orang yang lagi kasmaran itu dan hampir seluruhnya bernada mesum, bahkan menjurus jorok.

Endang, menurut Baidowi, yakin bahwa SMS tersebut merupakan komunikasi antara Nita dan Tohari meskipun dalam phonebook ponsel Tohari terlihat lawan ber-SMS mesum tertulis nama Mar’atul Jamil.

Hal senada dilontarkan Ketua PAC PD Peterongan, Ali Mustofa. Menurut tokoh sepak bola Jombang itu, Tohari tak hanya menyimpan foto-foto bugil sang pembantu, tetapi juga diekspresikan lewat ratusan SMS mesum. Istri Tohari, Endang Ekowati, dikonfirmasi terkait SMS mesum yang ditemukan di ponsel Tohari, membenarkan temuan itu.

“Ya isinya soal ML dan semacamnya itu,” kata Endang ketika dihubungi Surya, Selasa (24/8/2010).

Menurutnya, sebenarnya tak hanya sekali dia menemukan ratusan SMS itu, tetapi sudah dua kali. Pertama, sebelum dirinya menemukan foto-foto Nita. “Tapi itu tidak sempat saya simpan karena ponsel keburu dibanting Mas Tohari. Padahal, jumlahnya sekitar 200 SMS,” kata Endang.

Kemudian, yang kedua ditemukan berbarengan dengan dijumpainya foto-foto Nita di ponsel Tohari.

Hanya saja, Endang mengaku, untuk temuan yang kedua ini jumlahnya hanya 124 SMS. Dari 124 SMS itu, imbuh Endang, sekitar 100 SMS bernada mesum. “Ya, 100 SMS kurang sedikit,” imbuh ibu dua anak ini.

Dia juga yakin SMS itu merupakan komunikasi dengan Nita, kendati nama dalam ponsel Tohari dengan nama lain. Alasannya, dalam kalimat-kalimat SMS itu juga muncul kata "Nita".

Endang mengaku ratusan SMS itu masih disimpannya karena untuk jaga-jaga. “Siapa tahu itu diperlukan untuk pembuktian di persidangan perceraian nantinya,” kata Endang.

Sementara itu, DPP Partai Demokrat (PD) sudah menurunkan tim investigasi ke Jombang guna menelusuri kasus perselingkuhan Tohari. Informasi itu disampaikan Sekretaris DPC PD Jombang Didik Lokma Mahiyudin. “Saya tadi kontak dengan Mas Anas (Ketua Umum DPP PD Anas Urbaningrum, Red), tim investigasi DPP hari ini turun ke Jombang,” kata Lokma, Selasa (24/8/2010).

“Kalau terbukti kasus itu benar, sesuai pernyataan Mas Anas, lebih baik Tohari memang dicopot dari fraksi,” tandas mantan aktivis HMI ini.

Sementara itu, sehari setelah mencuatnya kasus dugaan perselingkuhannya, Tohari menghilang, Selasa (24/8/2010). Wartawan yang menyanggong ruang Komisi D dan Kantor Fraksi PD DPRD sejak pagi tidak menjumpainya.

Saat nomor ponselnya berhasil dihubungi wartawan, Tohari mengaku bahwa dirinya sedang berada di kawasan Kediri. “Maaf saya sedang berada di Kediri. Insya Allah, hari Kamis (26/8/2010) saya akan jumpa pers. Dengan begitu semuanya akan jelas,” kata Tohari. “Sekali lagi saya tidak mau berkomentar. Saya hanya pasrah kepada Allah,” pungkas Tohari, menutup ponselnya. (uto/iks)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau