Malaysians Asked to Ignore Bendera

Kompas.com - 26/08/2010, 14:46 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com -  Indonesian nationalist group Bendera’s warning that it will shave the heads of Malaysians and deport them is an empty one, said Indonesian Minister Counsellor for Information, Social and Culture to Malaysia Widyarka Ryananta.

Brushing off the claims as another one of Bendera’s attention-seeking tactics, the embassy official said he had full confidence that Malaysians were safe in his home country.

He urged Malaysians to ignore Bendera, which he described as a minority group, and its “extreme” ways, which did not represent the sentiments of the majority of Indonesians.

“We are very disappointed with Bendera’s foul abuse of the freedom of expression that is available in our country,” Widyarka said of Monday’s incident when Bendera members threw human faeces into the compound of the Malaysian embassy in Jakarta.

It had been reported that the activist group had declared a “sweeping” operation against Malaysians, supposedly to have begun yesterday, to deport them.

The group had also defiled the Jalur Gemilang during Monday’s demonstration to protest against the Malaysian authorities’ detention of three Indonesian maritime officers.

“Just like last year, they (Bendera) said they would invade Malaysia but, expectedly, it did not happen.

“They are just a minority group launching an extreme discourse,” said Widyarka.

Meanwhile, MIC president Datuk Seri S. Samy Vellu condemned the action of the demonstrators, saying: “No individual or group must resort to this kind of action as it will hurt relations between Malaysia and Indonesia.”

In George Town, the Penang government stated that it was “very anxious” that the Malaysian embassy in Jakarta had been “contaminated” by demonstrators who threw faeces into its compound.

Chief Minister Lim Guan Eng said such acts must be stopped immediately.

“Malaysia and Indonesia have a good relationship – I am sure the Indonesian government does not condone this very shocking act.”

“Even if there is a misunderstanding, it need not have come to this,” Lim told a press conference after presenting a RM10,000 contribution to the police and armed forces yesterday.

In Johor Baru, the Universiti Teknologi Malaysia (UTM) students’ representative council described Bendera’s attack as unethical and disrespectful of regional neighbours, especially those who were fasting.

Its president Muhammad Zaki Omar said: “We urge the Indonesian government to take stern action against the protesters for not respecting the friendship between the two nations.”

Citing the example of UTM, he pointed out that the university had sent its students to help those hit by natural disasters in Indonesia such as the Padang earthquake and Aceh tsunami.

He also said Indonesian students were welcome to continue their studies at UTM, adding that some of them were also given financial help to study.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau