Spekulasi Dorong Harga Beras

Kompas.com - 27/08/2010, 03:50 WIB

Jakarta, Kompas - Kementerian Pertanian menjamin kenaikan harga beras bukan bersumber dari persoalan produksi. Harga beras yang tinggi diduga akibat spekulasi sebagian pedagang yang menahan stok. Pemerintah melalui Perum Bulog akan terus menstabilkan pasar dengan memasok beras.

Menteri Pertanian Suswono menegaskan hal itu di Jakarta, Kamis (26/8). Ia berkunjung ke Redaksi Kompas didampingi, antara lain, Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, Staf Ahli Menteri Pertanian Syukur Iwantoro, Kepala Badan Karantina Pertanian Hari Priyono, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Zaenal Bachruddin, serta Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Gatot Irianto.

”Harga beras saat ini tinggi walaupun stok pasokan di (Pasar Induk Beras) Cipinang melimpah. Kalau normal, pasokan beras 2.000 ton sehari, sekarang bisa lebih dari 3.000 ton per hari. Bahkan, pernah sampai 4.000 ton per hari. Tampaknya pasar sedang mencoba kekuatan Bulog,” kata Suswono.

Harga beras IR 64-II di pasar domestik 568,6 dollar AS per ton. Adapun harga beras medium di Thailand 415-435 dollar AS per ton dan di Vietnam 360-385 dollar AS per ton.

Pemerintah masih sangat yakin harga beras nasional yang melebihi pasar internasional tidak berdampak negatif. Pemerintah menargetkan luas panen 13,08 juta hektar mampu memproduksi padi 67,15 juta ton gabah kering giling untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Menurut Gatot, harga beras yang tinggi saat ini merupakan dampak dari masalah distribusi. Kebutuhan beras antarpulau semestinya tidak dipasok dari DKI Jakarta.

”Sulawesi Selatan surplus banyak beras yang bisa dipakai untuk memasok daerah lain yang masih kurang. Jadi, bukan dari Jakarta yang hotspot. Ini soal perdagangan,” ujar Gatot yang juga Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Tanaman Pangan.

Gagal panen

Namun, dari hasil pemantauan di Medan, Sumatera Utara; Grobogan, Kota Semarang, Demak, Jawa Tengah; dan Cirebon, Jawa Barat; harga beras tetap tinggi dan tidak terpengaruh operasi pasar oleh Bulog. Pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Grobogan Edi Purwanto mengungkapkan, petani Grobogan dan Demak gagal panen akibat serangan hama wereng dan kini kesulitan uang.

”Kesulitan uang itu menandakan mereka gagal panen. Biasanya, panen musim tanam kedua ini menjadi tabungan petani guna keperluan Lebaran,” ujar Edi.

Gagal panen di Kabupaten Grobogan terjadi di Kecamatan Wirosari, Kradenan, Gabus, Tegowanu, Ngaringan, Gundih, Gubuk, dan Pulokulon. Kondisi ini juga terjadi di Kabupaten Demak. Aparat desa di kedua kabupaten itu menyediakan kredit Rp 3 juta-Rp 5 juta dengan bunga 2-3 persen per bulan untuk petani.

Sementara di pasar lokal, harga beras bertahan tinggi. Pedagang beras di Pasar Induk Beras Dargo, Semarang, Kastawar, mengatakan, harga beras medium naik rata-rata Rp 500 per kilogram (kg). Harga beras IR 64 kini mendekati Rp 6.000 per kg.

Di Medan, beras IR 64 kini dijual Rp 6.500 per kg. Menurut Hasan, pedagang beras di Pasar Peringgan, stok beras masih banyak saat ini.

Di Cirebon, sebulan terakhir harga beras premium naik Rp 1.000 per kg. Harga beras medium Rp 6.200-Rp 6.400 per kg.

Menurut pedagang beras di Pasar Pasalaran, Plered, harga beras medium dan standar turun Rp 50-Rp 100 per kg setelah Bulog menggelar operasi pasar. Namun, Mufti, pedagang beras di Pasar Sumber, memperkirakan harga beras masih akan naik lagi dan tidak terpengaruh operasi pasar Bulog.

Kepala Perum Bulog Subdivisi Regional Cirebon Rusdianto mengatakan, patokan pedagang soal harga adalah siklus panen. Sementara pemerintah memiliki mekanisme operasi pasar untuk mengontrol harga beras. Saat ini Bulog Cirebon memiliki stok beras 83.000 ton dan 40 ton beras untuk operasi pasar sampai akhir pekan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Cirebon Haki mengimbau pedagang agar tidak mencari untung terlalu besar. Kenaikan harga beras tidak wajar lagi karena melebihi 15 persen.

Stok aman

Pemerintah meminta masyarakat tetap tenang menghadapi fluktuasi pasar menjelang Lebaran. Seruan ini disampaikan Kepala Pusat Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Arman Moenek, Kepala Subdirektorat Hasil Pertanian dan Kehutanan Direktorat Bina Pasar dan Distribusi Kementerian Perdagangan Pariaman Sitorus, serta Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum Bulog Abdul Waris dalam jumpa pers bersama di Jakarta.

Arman mengatakan, secara umum, persediaan komoditas pangan utama nasional hingga akhir 2010 cukup aman. Beras, misalnya, hingga 31 Desember 2010 surplus 5,6 juta ton.

Demikian juga persediaan gula hingga Desember 2010 tercatat 6,073 juta ton, sementara kebutuhan masyarakat hanya 4,51 juta ton.

Adapun produksi daging ayam selama tahun 2010 diperkirakan mencapai 1,35 juta ton, sedangkan kebutuhannya hanya 873.000 ton. Demikian pula dengan telur ayam dan daging sapi yang mengalami surplus.

”Berdasarkan data ini, masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadi kelangkaan komoditas pangan,” ujar Arman.

Menurut Pariaman, berdasarkan survei Kementerian Perdagangan bersama dinas perdagangan di semua provinsi, kenaikan harga pangan selama Ramadhan dan menjelang Lebaran tahun ini tidak terlalu tinggi. Harga beras medium rata-rata bulan Juli Rp 6.500 per kg dan bulan Agustus Rp 6.662 per kg.

Demikian pula harga minyak goreng curah. Harga rata-rata bulan Juli Rp 9.341 per kg dan bulan Agustus Rp 9.767 per kg. Pariaman menambahkan, pemerintah akan terus menggelar operasi pasar untuk menekan harga beras, yang berperan besar terhadap inflasi bulan Juli 2010.

Menanggapi kondisi di lapangan yang berbeda, di mana harga kebutuhan pokok di tingkat ritel bisa naik 20-30 persen, Abdul Waris mengatakan, tidak bisa dimungkiri, pedagang eceran memanfaatkan momentum Ramadhan untuk menaikkan harga.

Hal ini karena selain kebutuhan pedagang meningkat, juga ada ketakutan pada pedagang ritel bahwa harga akan naik sehingga tidak dapat lagi membeli barang dagangan dengan harga lama.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga beras, Abdul Waris mengatakan, Bulog akan melakukan operasi pasar. Saat ini, persediaan beras Bulog mencapai 1,4 juta ton dan persediaan beras pemerintah 502.000 ton.

Jumlah beras sebanyak itu, lanjutnya, sangat mencukupi untuk melakukan stabilisasi harga jika terjadi kenaikan cukup tinggi menjelang Lebaran.(ham/REI/wsi/who/tht)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau