Beda Hipnoterapi dan Hipnosis Panggung

Kompas.com - 27/08/2010, 13:55 WIB

Kompas.com - Hipnosis yang dikenal oleh kebanyakan orang adalah praktik hipnosis panggung, seperti yang dilakukan oleh Romy Rafael dan Uya Kuya. Sebetulnya praktik hipnoterapi dengan hipnosis panggung (untuk pertujukan atau hiburan) merupakan dua hal yang berbeda, meskipun lama-sama menggunakan hipnosis sebagai dasarnya.

Menurut Adi W. Gunawan, guru hipnoterapi yang menyebut diri the re-educator & mind navigator itu, hipnotis panggung sangat mudah dipelajari dan dipraktikan.

"Untuk menjadi seseorang yang jago melakukan stage hypnosis, Anda cukup mengikuti lokakarya sehari. Setelah mengerti dasar-dasarnya, Anda bisa langsung mempraktikkannya," ungkap penulis buku-buku hipnotis antara lain berjudul Hypnotherapy, the Art of Subconscious Restructuring ini.

Menurut Adi, saking gampangnya, bahkan beberapa pembaca bukunya yang berjudul Hypnosis: The art of Subconscious Communication mengirim e-mail dan SMS kepadanya menceritakan kemampuan mereka mempraktikkan hipnosis, hanya dari membaca buku saja. Ada yang bisa membuat temannya kehilangan angka 5 dan lupa nama dirinya, ada juga yang membuat jalinan kedua tangannya tak bisa dilepaskan, dan lain-lain.

Mengapa hipnosis panggung bisa sedemikian mudah dipraktikkan, menurut Adi, karena kebetulan subjeknya memang mudah trance. Seorang praktisi hipnosis diajarkan bagaimana memilih subjek yang mudah trance, cara mengetahui kedalaman kondisi trance, maupun efek hipnosis pada subyek.

"Inti dari stage hypnosis adalah kejelian memilih subjek hipnosis dan kreatif dalam menentukan skenario," papar Adi.

Karena itu, hipnosis panggung perlu persiapan lebih dulu. Mengapa? "Tentu tidak lucu kalau subjek yang dipilih ternyata sulit masuk ke dalam kondisi trance. Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi kalau praktisi hipnosis menjentikkan jarinya dan berkata "Tidur!" tetapi subjek itu cuma cengar cengir," katanya.

Sementara itu, dalam hipnoterapi, para terapis tidak dapat memilih subjek yang mudah masuk ke dalam kondisi trance. Terapis harus menerima kliennya dalam kondisi apapun, baik yang sangat mudah, cukup mudah, atau bahkan sulit masuk kondisi trance. Itulah sebabnya seorang hipnoterapis harus memahami banyak teknik serta kreatif.

Menurut Adi Gunawan, hipnosis baru dapat disebut sebagai hipnoterapi jika menggunakan teknik-teknik tertentu untuk membantu klien menemukan sumber masalahnya dan meningkatkan potensi diri mereka, sesuai dengan masalah yang mereka hadapi.

"Terapi yang diterapkan harus berpusat pada diri klien atau client centered dan bukan therapist centered," ujar Adi, yang menimba ilmu Mind Mirror dari Anna Wise di Berkeley, Amerika Serikat ini.

Adi juga menjelaskan bahwa dalam terapi, para terapis tidak perlu membawa klien sampai pada kondisi trance yang sangat dalam (somnabulisme). Dengan kondisi light trance atau trance ringan saja terapi sudah bisa dilaksanakan.

"Kondisi deep trance hanya diperlukan kalau terapis menggunakan teknik tertentu, misalnya age regression, past life regression, past life regression, atau parts therapy," kata Adi. (GHS/wid)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau