Jombang, Kompas -
Dalam kunjungan kerjanya ke Jombang, Jumat (27/8), Menteri Perindustrian MS Hidayat menaruh perhatian besar terhadap prospek industri sepatu yang dilakukan investor dari Taiwan.
Ketua Umum Asosiasi Industri Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan, PMA Taiwan ini awalnya menanamkan modal dengan mendirikan PT Pei Hai International Wiratama Indonesia tahun 1990-an. Investasi sudah mencapai 450 juta dollar AS.
PMA ini awalnya belum mempunyai pabrik sendiri. Baru pada Juli 1993, Pei Hai mempunyai pabrik di Mojokuripan, Jogoloyo, Jombang. Lalu, pada 5 Mei 1995, PMA ini mempunyai pabrik baru dengan jumlah karyawan sekitar 1.400 orang.
Perkembangan bisnis membuat lapangan kerja semakin bertambah sehingga secara keseluruhan menjadi 3.858 orang dengan tenaga asing 12 orang. Produksi sepatu sekitar 240.000 pasang per bulan.
Menurut Eddy, aktivitas produksi yang kondusif menyebabkan PMA Taiwan lainnya masuk ke Jombang dengan mendirikan industri sepatu PT Uniqueness Sepatumas Indonesia.
Investasinya dilakukan secara bertahap dengan total investasi sekitar 450 juta dollar AS. ”Saat ini investor kedua sedang mempersiapkan pembangunan pabrik baru di Jombang. Investor kedua ini bisa berproduksi lebih besar lagi, bisa mencapai 320.000 pasang sepatu per bulan,” kata Eddy.
PMA ini bukan hanya sekadar menanamkan modal, melainkan juga memiliki pasar di tingkat internasional sehingga menjamin kelangsungan aktivitas produksi.
Apalagi, kedua industri ini hanya memproduksi sepatu berkelas untuk memenuhi pasar ekspor dengan merek, antara lain, Dolce & Gabbana, Geox, dan Diadora. Bahkan, sepatu yang diproduksi bukan hanya sepatu olahraga, melainkan juga sepatu yang digunakan di daerah salju.
Besarnya potensi Jombang sebagai daerah investasi mendorong beberapa daerah lain, seperti Sidoarjo, Pasuruan, dan Mojokerto, dijadikan kawasan industri oleh pemerintah.
Untuk itu, Aprisindo sangat mendorong pemerintah untuk menjadikan daerah-daerah di Jatim dijadikan sebagai kluster kawasan industri prioritas.