Peneliti indonesia

Duh, Banyak Peneliti Pindah ke Malaysia!

Kompas.com - 28/08/2010, 10:54 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Banyak peneliti Indonesia dari berbagai keahlian pindah ke lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Malaysia. Padahal, sebagian besar dari peneliti tersebut disekolahkan dengan biaya negara.

Salah satu alasan kepindahan tersebut karena suasana riset di Tanah Air yang kurang kondusif. Sebagian besar riset, misalnya, hanya terhenti di penyelesaian laporan dan tidak ada tindak lanjut, seperti jalinan kerja sama dengan swasta untuk implementasi hasil penelitian. Selain itu, tingkat kesejahteraan peneliti juga relatif rendah.

Hal itu terungkap dalam tanya jawab antara peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) secara terpisah dengan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata di Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/8/2010).

Estiko Rijanto, peneliti Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI, mengatakan, gaji peneliti lulusan program doktoral tak lebih dari Rp 4 juta. Gaji peneliti yang sudah termasuk dengan berbagai tunjangan itu bisa lebih rendah dibandingkan dengan gaji guru sekolah dasar yang telah lulus sertifikasi.

Adapun gaji peneliti dan dosen yang ditawarkan Malaysia minimal Rp 20 juta per bulan, belum termasuk berbagai tunjangan, seperti perumahan, kendaraan, dan kesehatan. Kondisi itulah yang membuat banyak peneliti Indonesia tertarik pindah bekerja ke Malaysia.

Profesor riset Batan, Budiono, mengatakan, pemerintah harus lebih peduli pada nasib peneliti-peneliti Indonesia. Negara telah susah payah menyekolahkan mereka, tetapi mereka justru dimanfaatkan negara lain setelah menyelesaikan pendidikannya.

”Indonesia memiliki ahli-ahli yang cukup banyak dan kemampuan mereka tak kalah dengan peneliti di luar negeri,” ujarnya.

Di luar persoalan gaji, para peneliti juga mengeluhkan lemahnya dukungan industri. Banyak hasil penelitian peneliti berakhir menjadi tumpukan dokumen penelitian atau jurnal.

Peneliti Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI, Masyhuri, mengungkapkan, Pemerintah Malaysia memberikan insentif bagi industri mereka yang mau menggunakan dan memproduksi hasil-hasil penelitian para peneliti. Di Indonesia, industri justru lebih gemar membeli lisensi produk asing untuk diproduksi di Indonesia.

Sarana terbatas

Terbatasnya peralatan pendukung penelitian juga dikeluhkan para peneliti. Menurut peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Iskandar Zulkarnain, untuk menunjang penelitian dibutuhkan peralatan yang bagus. Namun, mahalnya harga peralatan dan terbatasnya anggaran menyebabkan pengadaan peralatan pendukung sulit diwujudkan.

Menanggapi berbagai ungkapan para peneliti itu, Suharna mengatakan, larinya para peneliti Indonesia ke negara tetangga tidak dapat disalahkan. Mereka pergi saat kondisi ekonomi Indonesia terpuruk yang membuat dunia penelitian ikut terimbas dengan berbagai kesulitan.

”Jika kondisi penelitian di Indonesia nanti membaik, saya yakin mereka akan kembali ke Indonesia. Gejala serupa juga terjadi di India dan China,” katanya.

Suharna juga mengakui, kesejahteraan para peneliti masih rendah. Saat ini, Kementerian Riset dan Teknologi bersama dengan sejumlah lembaga penelitian nonkementerian sedang menyusun sistem remunerasi baru bagi para peneliti dalam kerangka reformasi birokrasi. Dengan program ini, diharapkan mulai 2012 kesejahteraan peneliti dapat ditingkatkan. (MZW/CHE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau