Oleh Rini Kustiasih dan Timbuktu Harthana
Fenomena gadai, kini, bukan lagi dominasi rakyat kecil yang terjepit kebutuhan ekonomi. Apalagi, saat bulan Ramadhan, menjelang Lebaran, gadai dianggap sejumlah khalayak sebagai solusi pintar keluar dari lubang masalah.
Kurniawan (30) berkali-kali melihat nomor antrean di tangannya. Dia menanti giliran di Pegadaian Cabang Surapati, Kota Bandung. Antrean panjang itu tidak dilakoninya untuk mendapatkan uang ratusan ribu atau jutaan rupiah. "Cuma Rp 60.000 kok," katanya, Jumat (27/8).
Sudah sebulan, laki-laki ini menggadaikan cincin, kalung, dan gelang istrinya. Total sampai 22 gram. Uang hasil gadai tersebut untuk menambah modal usaha. Setiap kali membutuhkan modal, dan kebetulan tidak punya uang tunai, pegadaian adalah tempat yang dirujuknya. Kali ini dia ingin menambah barang yang digadaikan, yakni cincin seberat 5 gram.
Rencananya, menjelang Lebaran nanti, ia berniat mengambil sebanyak mungkin nilai gadai atas perhiasan istrinya. Uang itu akan digunakannya untuk biaya mudik ke kampung. Sepulangnya dari Lebaran, barulah perhiasan emas itu bakal ditebusnya.
Hampir 95 persen barang yang digadai sekarang ini adalah emas, sedangkan barang gudang, seperti barang elektronik dan kendaraan bermotor, lebih sedikit. Baik di kota besar maupun pedesaan, emas adalah barang yang paling mudah disimpan dan diuangkan. Bahkan, nilainya cenderung naik. Oleh karena itu, Nuraini, Manajer Pegadaian Cabang Indramayu, mengatakan, transaksi gadai emas adalah yang terbanyak.
Bukan hanya kalung, cincin, gelang, dan anting emas yang digadaikan, sabuk emas dan tali kutang emas pun digadaikan oleh pemiliknya. Sekali menggadai, bisa satu buah, satu set, atau satu kotak. Berat dan kadar emasnya pun beragam.
"Dari barang emas yang digadaikan seorang nasabah, kita bisa tahu tingkat ekonomi orang itu. Bukan hanya orang yang miskin yang menggadai, melainkan banyak juga orang kaya yang datang ke sini," ujar Nuraini.
Motif mereka macam-macam. Biasanya, menjelang puasa, mereka menggadai emas untuk memperoleh modal dagang atau uang belanja di awal Ramadhan. Namun, menjelang Lebaran, mereka "menyekolahkan" hartanya dengan tujuan menyimpan dan mengamankan barang berharganya.
Bagi mahasiswa atau perantau di kota besar yang akan mudik Lebaran, rasa khawatir meninggalkan barang berharga di rumah dan kos sering terjadi. Oleh karena itu, mereka menyimpannya di pegadaian. Terkadang, uang gadai yang mereka minta lebih rendah dari nilai maksimum barang. Tak jarang, nasabah malah hanya membayar uang jasa penitipan tanpa mengambil uang gadainya.
"Nyandang"
Di Indramayu transaksi yang lebih banyak justru penebusan. Nasabah lebih banyak membayar utangnya agar perhiasan yang sempat digadaikan dua-tiga pekan lalu bisa kembali ke tangan. Hal ini, kata Nuraini, masyarakat Indramayu biasa nyandang atau mengenakan emas saat lebaran.
Akibatnya, transaksi penebusan pun naik sampai 10 persen dari rata-rata per bulannya. "Saat saya tanya, ibu-ibu yang menebus emasnya bercerita kalau Lebaran itu harus nyandang emas biar terlihat lebih bagus. Apalagi, saudara-saudara kumpul semua," kata Nuraini.
Kantor Perum Pegadaian Kantor Wilayah Bandung mencatat, sejak Juli hingga Agustus jumlah penebusan emas dan barang berharga lainnya justru naik 37 persen dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Normalnya, nilai penebusan barang setiap bulan sekitar Rp 328 miliar. Kini angkanya naik menjadi Rp 450 miliar.
"Ada perubahan tren nasabah menjelang Lebaran dalam lima tahun ini. Dulu sebagian besar nasabah pergi ke pegadaian untuk memperoleh uang sebagai biaya mudik. Tetapi, sekarang justru penebusan yang naik drastis," kata Marulitua, staf senior pada Usaha Inti dan Pemasaran Perum Pegadaian Kanwil Bandung.
Rina (25), pekerja di sebuah warung di Bandung, mengatakan, sebelum pulang ke rumahnya di Garut, dia ingin menebus kalung emas seberat 4 gram di pegadaian. Itu dilakukannya karena dia khawatir kalungnya hilang atau dilelang saat dia belum pulang dari kampung. Namun, perempuan ini tak ragu datang kembali ke pegadaian untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang