Sinabung meletus

Mayoritas Rute Penerbangan Relatif Aman

Kompas.com - 30/08/2010, 08:16 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Kecuali rute Medan-Sibolga-Medan, rute penerbangan dari dan ke Medan, seperti Medan-Jakarta, masih relatif aman setelah Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara, meletus pada Minggu dini hari.

"Manajemen terus menginformasikan situasi Gunung Sinabung ke seluruh manajemen penerbangan. Hari ini, misalnya, ketinggian asap mencapai 1.500 meter dengan radius 6 kilometer. Kecuali untuk Medan-Sibolga-Medan, penerbangan ke rute lainnya dinilai masih aman," kata General Manager Angkasa Pura II Bandara Polonia Medan, Kolonel Penerbang Bram Bharoto Tjipta, di Medan, Minggu (29/8/2010) malam.

Dia mengatakan hal itu menjawab pertanyaan wartawan soal situasi penerbangan di Bandara Polonia Medan setelah Gunung Sinabung meletus pada Minggu dinihari di sela acara berbuka puasa yang digelar PT Garuda Indonesia Medan dengan jajaran muspida dan pelanggan lainnya.

Dia menegaskan, meski dinilai aman, pihaknya menyerahkan keputusan terbang tidaknya pesawat perusahaan itu ke masing-masing perusahaan penerbangan. "Kami hanya memberikan informasi yang up to date setiap saat untuk bisa disikapi penerbangan dan sejauh ini Susi Air jurusan Medan-Sibolga yang sempat menunda penerbangannya, sementara penerbangan rute Medan-Jakarta belum ada yang melakukan penundaan atau pembatalan terbang," katanya.

Dia mengakui rute Medan-Sibolga memang melintasi kawasan Gunung Sinabung yang sejak Sabtu malam sudah mengeluarkan tanda-tanda akan meletus.

Bram mengakui asap dan termasuk debu yang keluar dari gunung bisa membahayakan penerbangan karena selain mengganggu pemandangan pilot juga debunya yang berisi semacam kerikik kecil yang terbang dan memasuki mesin pesawat bisa membahayakan pesawat karena bisa mematikan mesin. "Jadi, kami terus menginformasikan keadaan pasca Gunung Sinabung itu meletus. Dan, kami meminta perusahaan penerbangan benar-benar mengambil keputusan yang tepat," kata Bram.

General Manager Garuda Indonesia Medan, Muchwendi Harahap, membenarkan pihaknya belum pernah membatalkan atau menuda penerbangan Medan-Jakarta setelah Gunung Sinabung itu meletus. "Jadwal terbang dari Medan masih tetap seperti biasa, tetapi manajemen tetap memantau perkembangan dan termasuk mendengar informasi dari Angkasa Pura II dalam melakukan kebijakan terbang pascaperistiwa  meletusnya Gunung Sinabung itu," katanya.      Pascaperistiwa meletusnya Gunung Sinabung itu hingga Minggu sore tercatat ada 11.509 orang warga Tanah Karo dan sekitarnya masih berada di pengungsian. "Itu jumlah pengungsi hingga Minggu pukul 17.00 WIB," kata Kepala Posko Induk Penanganan Musibah Gunung Sinabung, Darwinsyah.

Para pengungsi itu tersebar di 10 tempat, yakni Jambur Lige (3.700 orang), Jambur Adil Makmur (1.380 orang), Jambur Sempa Kota (505 orang), Taras Berastagi (1.367 orang), dan Kolasis Kebun Jahe (237 orang).

Kemudian, di Kantor Kementerian Agama Tanah Karo (200 orang). Jambur Pulungen (600 orang), Jambur Dahlian Natula (1.120 orang), daerah Tiga Binanga (1.500 orang), dan daerah Langkat (900 orang).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau