Harga Beras Terus Naik

Kompas.com - 30/08/2010, 11:59 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Harga beras di pasar tradisional Kota Yogyakarta naik dalam dua minggu terakhir. Kenaikan harga itu diduga berhubungan dengan spekulasi pedagang menjelang Idul Fitri yang secara rutin meningkatkan permintaan barang. Dari sisi ketersediaan, tidak ada ancaman kelangkaan. Karena itu, konsumen diminta tidak panik.

Suci Iswani, pedagang beras di Pasar Beringharjo, menuturkan, harga beras cenderung tinggi akhir-akhir ini. Saat ini, ia menjual beras C4 kualitas satu dengan harga Rp 6.800 per kilogram. Padahal, dua minggu lalu, harga masih di kisaran Rp 6.500 per kg. harga beras C4 kualitas dua naik dari Rp 5.800 per kg menjadi Rp 6.500 per kg.

"Kalau dijual di warung, harganya mungkin bisa jadi Rp 7.000 per kg untuk C4 kualitas dua," tuturnya, sambil melayani pembeli, Minggu (29/8).

Selain harga beras, harga tepung terigu juga naik. Tepung terigu tanpa merek yang biasanya dijual Rp 5.000 per kg kini dijual Rp 5.500 per kg. "Naiknya baru seminggu terakhir," kata Suci, yang juga menjual sejumlah bahan makanan lain di kiosnya ini.

Suci mengaku tak tahu persis penyebab kenaikan harga. Ia menduga, kenaikan harga berhubungan dengan naiknya harga barang menjelang Idul Fitri.

Menurut dia, harga barang biasanya terus naik saat mendekati Idul Fitri. Kondisi semacam itu membuat penjualan barang menjadi lesu karena para pembeli mengurangi jatah belanja. "Sekarang ini pasar sudah mulai padat, tapi sebagian besar orang datang untuk beli baju. Yang beli beras sepi," tuturnya.

Stabil turun

Berbeda dengan beras dan tepung terigu, harga sejumlah bahan makanan lain cenderung stabil, bahkan menurun. Harga telur ayam, misalnya, turun dari kisaran Rp 13.000 per kg menjadi Rp 11.000 per kg. Harga daging sapi stabil di angka Rp 65.000 per kg. Harga gula pasir Rp 9.800 per kg dan harga minyak goreng curah Rp 8.500 per liter.

Secara terpisah, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan DIY Asikin Chalifah mengatakan, akhir-akhir ini harga sejumlah komoditas pangan memang cenderung naik. Namun, kenaikan harga masih dinilai wajar sehingga sejauh ini belum ada rencana operasi pasar. Ia mengatakan, stok bahan makanan sebenarnya memadai. Kenaikan harga saat ini lebih berhubungan dengan harapan pedagang menjelang Idul Fitri. "Menjelang hari besar nasional, pedagang ingin mencari keuntungan sehingga akhirnya harga naik," ujarnya.

Guna menahan laju kenaikan harga, lanjut dia, sejumlah instansi pemerintah menggelar pasar murah. Perum Bulog juga membagi jatah beras miskin lebih awal. "Kami juga mengimbau masyarakat agar tidak resah. Pelaku usaha juga tidak perlu menaikkan harga karena stok mencukupi," ujarnya. (ARA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau