SEMARANG, KOMPAS, com — Di tengah persaingan sarana transportasi mudik, pengusaha angkutan bus antarkota diharapkan lebih banyak menarik simpati pemudik yang akan pulang ke kampung menggunakan sarana bus umum. Sopir bus diimbau tidak ugal-ugalan supaya penumpang menjadi nyaman dan setia menggunakan angkutan bus.
"Kalau busnya sudah bagus, tapi tidak diimbangi dengan perilaku sopir yang santun dan lebih mengutamakan keselamatan, nanti penumpang akan lari pindah ke sarana angkutan lain seperti kereta api dan lainnya," kata Ketua Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) Provinsi Jawa Tengah, Karsidi Budi Anggoro, Senin (30/8/2010) di Semarang.
Karsidi Budi Anggoro menyatakan, sarana angkutan bus saat ini kondisinya memang berat di tengah persaingan angkutan massal Lebaran lain. Pemudik yang naik bus merupakan pemudik yang menginginkan angkutan bus dapat dipercaya membawa penumpang sampai tujuan.
"Sopir juga jangan main kemplang ketika membawa penumpang. Bus yang trayeknya hanya Jakarta-Cirebon supaya tidak mengangkut penumpang jurusan Jakarta-Semarang, lalu ketika sampai di Cirebon, penumpang diturunkan paksa. Tentunya hal itu sangat merugikan penumpang," ujar Karsidi.
Setiap bus antarkota antarprovinsi juga perlu dilengkapi dengan peralatan keselamatan, termasuk palu pemecah kaca. Palu ini sewaktu-waktu harus bisa dipakai memecahkan kaca bus, saat kondisi darurat agar keselamatan penumpang terjamin.
Untuk membantu pemudik asal Jateng, pemprov menyiapkan sekitar 145 bus antarkota antarprovinsi, sementara kalangan pengusaha menyediakan tak kurang 11.600 bus yang siap mengangkut pemudik yang akan pulang kampung ke sejumlah kota di Jawa Tengah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang