Malu Periksa, Memperparah Kanker Payudara

Kompas.com - 30/08/2010, 15:56 WIB

KOMPAS.com - Risiko terdiagnosa penyakit mematikan untuk perempuan seperti kanker serviks dan kanker payudara, bisa dihindari. Syaratnya perempuan perlu banyak menggali informasi, dan melakukan deteksi dini sebagai upaya pencegahan. Perempuan juga tak perlu malu memeriksakan diri ke dokter jika mendapati adanya kelainan pada organ tubuhnya.

Mengenai kanker payudara, di Indonesia, umumnya seseorang baru diketahui menderita penyakit berisiko tinggi ini setelah menginjak stadium lanjut. Minimnya pengetahuan ditambah rasa takut dan malu menjadi penyebab utamanya. Padahal dengan menyadari adanya kelainan pada area payudara, risiko penyakit ini bisa dihindari dengan penanganan yang tepat.

Spesialis Bedah Onkologi, dr Ramadhan, SpBOnk, mengatakan perempuan harus lebih peduli untuk memeriksakan dirinya.

"Orang Indonesia usia muda mengetahui terkena kanker payudara setelah stadium tiga hingga empat. Jika sudah seperti ini penyakit sudah menyebar ke organ lain di tubuh seperti paru-paru, hati, tulang, dan risikonya lebih besar," tegas dr Ramadhan dalam talkshow bertema Healthy Chit Chat beberapa waktu lalu.

Kenali gejalanya
Dijelaskan oleh dr Ramadhan, terdapat gejala awal kanker payudara yang patut diperhatikan perempuan. Seperti adanya benjolan, kelainan kulit, dan atau kelainan pada puting. Namun, katanya, tak semua benjolan adalah kanker, jadi Anda tidak perlu khawatir duluan. Jalan terbaik adalah memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui apa sebenarnya benjolan tersebut.

Lakukan pencegahan dengan deteksi dini

Sebagai pencegahan, lakukan pemeriksaan payudara sendiri atau yang dikenal dengan istilah SADARI. Lakukan pemeriksaan ini setiap kali selesai menstruasi (mulai hari ke-10 dihitung dari awal menstruasi). Pemeriksaan dilakukan setiap bulan, dimulai sejak usia 20 tahun. Lakukan pemeriksaan dengan perabaan dengan sedikit menekan di area payudara sehabis mandi sekitar seminggu setelah haid hari pertama.

"Lakukan secara sistematis, yaitu meraba payudara dari atas ke bawah, dan dari tengah ke bagian luar. Cara ini sederhana namun bisa mendeteksi kelainan pada payudara," lanjut dokter yang berpraktik di RS Kanker Dharmais ini.

Cara deteksi lainnya adalah dengan pemeriksaan klinis payudara oleh tenaga medis terlatih atau Clinical Breast Examination/CBE. Jika setelah melakukan SADARI Anda menemukan kelainan pada payudara, lanjutkan dengan CBE. Gunanya untuk memastikan adanya kemungkinan keganasan. CBE pada perempuan usia 20-40 tahun dianjurkan dilakukan tiga tahun sekali. Sedangkan untuk perempuan di atas 40 tahun CBE sebaiknya dilakukan setiap tahun.

Selain SADARI dan CBE, deteksi kanker payudara bisa dilakukan dengan mammografi, pemeriksaan ultrasonography (USG), memperbaiki kebiasaan makan dan berhenti merokok, dan melakukan olahraga serta kontrol berat badan.

Lebih dari 50 persen kanker payudara dapat dicegah dengan cara mengurangi konsumsi lemak, dan memperbanyak makan buah dan sayur.

"Jika terdeteksi sejak dini, penanganan akan lebih tepat. Jika terdiagnosa kanker payudara namun belum stadium lanjut, payudara tak perlu diangkat semua tapi hanya dibuang sebagian dengan disinar. Tak usah takut kemoterapi karena memang cara ini mulai ditinggalkan. Penanganannya bisa dengan obat hormonal," jelas dr Ramadhan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau