jakarta, kompas
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar, kemarin, menjelaskan, belum adanya laporan para korban diduga karena mereka terkendala dari internal yang menginginkan masalah itu diselesaikan secara intern. ”Tetapi, satu per satu orangtua memberanikan diri lapor,” kata Boy.
Ia menambahkan, laporan ke Unit Remaja Anak dan Wanita (Renata) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya baru dilakukan oleh orangtuanya. Belum disertai anak mereka yang diduga menjadi korban pelecehan Paskibraka senior.
”Baru orangtua yang melapor, anak-anak masih ada kendala psikologis,” tuturnya.
Dugaan pelecehan seksual atas siswa peserta pendidikan Paskibraka DKI Jakarta angkatan tahun 2010 mengemuka pada 16 Agustus lalu. Saat itu ada orangtua korban yang melaporkan pelecehan atas anak perempuannya kepada Bidang Kepemudaan Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta.
Bentuk pelecehan yang dilakukan Paskibraka senior berupa siswa disuruh berlari tanpa busana dari kamar mandi ke tempat tidur. Pelecehan dilakukan pada orientasi kepaskibraan antara 2 dan 6 Agustus di Cibubur.
Bidang Kepemudaan kemudian membentuk tim investigasi internal Purna Paskibraka Indonesia. Hasil investigasi antara lain menyebutkan, anggota paskibra putri lari berselimut handuk ke kamar mandi, bukan telanjang. Dua anggota paskibra, berinisial S dan Z, juga mengatakan hal yang sama.
Namun, saat diwawancara, salah seorang dari mereka mengatakan, ada momen saat mereka tidak menemukan handuk dan harus lari dalam keadaan telanjang dari kamar mandi ke kamar tidur. Ada juga yang ditampar instruktur perempuan karena melakukan kesalahan.
Menanggapi kasus tersebut, polisi menyatakan menunggu laporan para korban. Pekan lalu, L, salah satu orangtua korban, melapor ke Unit Renata. Langkah itu akan disusul S, orangtua siswa yang juga menjadi korban.