JAKARTA, KOMPAS.com — Musni Umar, Juru Bicara Eminent Persons Group (EPG) Indonesia-Malaysia, berharap, permusuhan Indonesia dan Malaysia segera diakhiri. Selain itu, ada sekitar 20.000 mahasiswa dan pelajar Indonesia yang belajar di Malaysia. Selain itu, tidak kurang 2,2 juta TKI yang terdiri dari pimpinan puncak perusahaan, para profesor, doktor, pekerja bangunan, sampai pekerja kebun dan pembantu rumah tangga (PRT) juga bekerja di Malaysia.
"Ini belum termasuk sebagian besar warga Malaysia keturunan Indonesia yang berharap supaya ketegangan dan permusuhan yang menjurus konflik terbuka RI-Malaysia segera diakhiri," ujarnya.
Mereka menyampaikan harapan kepada rakyat Indonesia-Malaysia, yang sebagian besar sedang berpuasa, supaya menahan diri dari amarah, perkataan, dan perbuatan yang bisa semakin mengobarkan permusuhan dan kebencian di antara kedua bangsa. Selain itu, menurut Musni, rakyat Malaysia dan para pemimpinnya di semua lapisan tidak merasa ada permusuhan sedikitpun terhadap bangsa Indonesia.
"Kita marah dan tidak bisa menerima karena petugas perikanan dan kelautan kita ditahan oleh aparat Malaysia. Sebaliknya, mereka juga marah dan tidak bisa menerima karena bendera mereka diinjak-injak, dibakar, dan kotoran (najis) dilemparkan ke Kedubes mereka di Jakarta," ujarnya.
Sikap menahan diri diperlukan untuk menurunkan tensi emosi sebagai cara mengakhiri ketegangan dan permusuhan, yang sama sekali tidak ada manfaatnya bagi rakyat dan bangsa kedua negara serumpun. Sejatinya, Indonesia-Malaysia saling membutuhkan. Menurut Musni, Malaysia banyak berinvestasi di Indonesia. Hal ini memberi keuntungan bagi kedua belah pihak dan membuka lapangan kerja.
Sering terjadinya permasalahan di antara dua bangsa ini dapat dipahami karena Indonesia-Malaysia secara sosiologis merupakan dua negara yang memiliki banyak persamaan dan intensitas hubungan masyarakat kedua negara paling tinggi karena kesamaan bahasa dan kedekatan wilayah. Akan tetapi, kedua negara memiliki kepentingan berbeda.
"Di dalam satu keluarga saja, yang kepentingannya sama, masih sering terjadi benturan. Maka dari itu, setiap terjadi benturan, harus selalu diupayakan pendekatan islah (memperbaiki), bukan mengobarkan konflik. Di sinilah pentingnya diplomasi dan perundingan untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang