Prinsipal VW Sambangi Pemerintah Indonesia

Kompas.com - 01/09/2010, 11:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana investasi raksasa otomotif asal Jerman, Volkswagen atau VW, di Indonesia memasuki tahapan baru. Pekan lalu, rombongan prinsipal dikabarkan berkunjung ke Kementerian Perindustrian atau Kemenperin dan membicarakan lebih lanjut terkait insentif yang ditawarkan Pemerintah Indonesia kepada investor.

Andrew Nasuri, Chief Executive Officer PT Garuda Mataram Motor (GMM), yang turut serta dalam pertemuan itu mengatakan, pihak prinsipal ingin menanyakan dukungan yang bisa diberikan Pemerintah Indonesia.

"Kemarin itu cuma pertemuan biasa dengan Pak Budi (Darmadi, Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Kemenperin). Pihak VW ingin tahu soal insentif yang ada," ujar Andrew menjawab Kompas.com, semalam di Jakarta.

Menurut Andrew, pihak Kemenperin menawarkan insentif sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2008 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-daerah Tertentu. Investor akan diberikan pengurangan pajak penghasilan (PPh) sebesar 30 persen dari jumlah penanaman modal yang dibebankan selama enam tahun.

Meski sudah menyambangi Pemerintah Indonesia, Andrew menegaskan belum ada keputusan terkait realisasi investasi VW di Indonesia. "Ini baru awal saja. Investasi perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan yang sangat hati-hati," beber Andrew.

Sebelumnya, pihak prinsipal VW telah menyatakan rencananya untuk mendirikan pabrik perakitan baru di Indonesia dengan total investasi 140 juta dollar AS atau setara dengan Rp 1,26 triliun dengan kapasitas produksi 50.000 unit per tahun. Indonesia terpilih menjadi salah satu negara tujuan investasi selain Thailand dan Malaysia sebagai basis produksi di wilayah ASEAN.

"Sesuai press release yang dikeluarkan pihak VW, rencana realisasi investasi masih belum ada perubahan, yakni pada 2012, dan mulai produksi setahun kemudian. Mudah-mudahan ini lancar dan bisa direalisasikan," ucap Andrew.

Indomobil Terkait rencana ini, pihak PT Indomobil Sukses International Tbk (Indomobil Group) menyatakan minatnya untuk bahu-membahu merealisasikan minat investasi VW di Indonesia. "Maunya sih terlibat di pabrik. Tapi, kita belum tahu ke depannya seperti apa. Apa nanti dibagi produksi dan pemasaran, atau yang lainnya. Semua belum final," papar Jusak Kertowidjojo, Vice President Director Indomobil Group.

Jusak menambahkan, pihaknya akan terus berupaya mendorong pihak VW agar segera merealisasikan investasinya di Indonesia. Potensi pasar domestik yang terbesar di kawasan ASEAN menjadi daya tarik tersendiri yang tak dimiliki negara lain.

"Memang infrastruktur kita kalah. Ini yang masih perlu dibenahi. Tapi kalau dari segi potensi ke depannya, tak ada yang bisa menyaingi Indonesia," ujar Jusak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau