Kerusuhan buol

Buol Mencekam, Mapolsek Momuni Dibakar

Kompas.com - 02/09/2010, 02:05 WIB

PALU, KOMPAS.com - Markas Kepolisian Sektor Momunu, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah diserbu dan dibakar ratusan orang, Kamis (2/9/2010) dini hari.

"Iya, informasi soal insiden itu sudah saya terima," kata Kapolres Buol AKBP Amin Litarso saat dihubungi per telepon dari Palu, Kamis dini hari.

Amin Litarso mengaku belum mengetahui pasti kronologi kejadian penyerangan Mapolsek Momunu yang berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Buol itu.

Namun dia mengatakan, penyerangan hingga pembakaran kantor polisi itu dilakukan massa terjadi pada Kamis sekitar 01.10 Wita.

Dalam insiden itu, kata Kapolres Amin Litarso, tidak ada korban jiwa, baik dari kubu warga sipil maupun polisi sendiri yang menjaga kantor polisi itu.

"Untuk tingkat kerusakannya, kami belum tahu persis karena situasinya masih belum memungkinkan untuk ke lokasi kejadian," katanya.

Menurut dia, saat kejadian, semua anggotanya pergi menyelamatkan diri meninggalkan polsek untuk menghindari adanya korban. Saat ini, kata dia, situasi keamanan di wilayahnya belum kondusif.

Sebab kata Kapolres Amin Litarso, penyisiran atau razia yang dilakukan massa terhadap rumah polisi masih berlangsung, begitu pun dengan aksi penghadangan dengan memblokade jalan pun masih ada sampai Kamis dini hari.

Sebelumnya, massa juga menjarah rumah dinas Wakil Kapolres Buol Kompol Ali. Massa bahkan membakar tiga rumah anggota Polri yang bertugas di wilayah Polres Buol.

Amin Litarso juga menyebutkan, beberapa sarana kepolisian seperti sepeda motor operasional dan pakaian seragam yang berada di Balai Tempat Umum (BTU) Buol juga menjadi sasaran amuk massa.

Di lokasi itu, tiga dari empat motor milik anggota di BTU dibakar dan satu lainnya dirusak. Amin Litarso juga membenarkan adanya upaya penyisiran warga terhadap para anggota polisi baik di asrama, kos-kosan maupun di lokasi lain.

Kerusuhan Buol pecah Selasa malam menyusul tewasnya seorang tahanan Polsek Biau bernama Kasmir Timumun pada Senin (30/8/2010) sore.

Keluarga menduga tewasnya Kasmir Timumun, warga Kelurahan Leok II yang bekerja sebagai tukang ojek itu, akibat penganiayaan oknum polisi.

Kasmir ditahan karena kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan seorang anggota kepolisian di kota itu, tetapi hari Senin dia tewas di dalam tahanan.

Sebagai buntut dari kematiannya, Selasa sekitar pukul 21.30 Wita, ribuan warga mendatangi Mapolsek Biau hingga mengakibatkan kerusuhan dan mengakibatkan tujuh orang tewas terkena tembakan dan puluhan lainnya luka-luka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau