Situasi Buol Terkendali

Kompas.com - 02/09/2010, 03:14 WIB

Palu, Kompas - Kepala Polda Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal (Pol) HM Amin Saleh menyatakan, situasi di Buol berangsur-angsur terkendali menyusul pertemuan antara tokoh masyarakat, adat, agama, dan keluarga korban bentrokan—yang melibatkan warga dan polisi, Selasa (31/8) malam hingga Rabu. Semua pihak diminta menahan diri agar situasi tidak kembali keruh.

”Saya sudah bertemu dengan tokoh warga setempat dan meminta untuk membantu menenangkan situasi. Situasi sudah terkendali dan saya akan terus melakukan pendekatan kepada masyarakat agar semua bisa mengendalikan diri,” kata Amin Saleh kemarin siang ketika dihubungi di sela-sela pertemuannya dengan tokoh masyarakat di Boul, 600 kilometer utara Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Hingga kemarin petang kor- ban tewas akibat bentrokan antara warga dan aparat kepolisian terus bertambah. Korban tewas yang pada Rabu dini hari dilaporkan dua orang bertambah menjadi tujuh orang pada sore hari. Selain itu, puluhan warga lainnya juga masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buol akibat luka berat dan luka ringan.

Informasi yang diperoleh dari RSUD Buol dan Perhimpunan Bantuan Hukum Rakyat (PBHR), korban tewas adalah Amran S Abajalu (19), warga Kelurahan Kali, Kecamatan Biau; Ridwan (26), warga Kelurahan Leok II, Kecamatan Biau; Herman, warga Kelurahan Kali, Kecamatan Biau; dan Rasyid Jufri, warga Kelurahan Leok II, Kecamatan Biau. Selain itu, juga Muslimin, warga Kecamatan Paleleh; Alimin, warga Desa Pajekko, Kecamatan Lipunoto; dan Apang Kapuung, warga Kelurahan Leok 1, Kecamatan Biau.

Bentrokan berlangsung pada Selasa pukul 21.30 Wita hingga Rabu dini hari. Kasus ini dipicu protes warga terkait tewasnya seorang tahanan polisi, Kasmir Timumum, di Markas Kepolisian Sektor (Polsek) Biau di Buol.

Penahanan Kasmir dilakukan menyusul kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan personel Polsek Biau, Briptu Ridwan, harus dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Palu, Sabtu malam pekan lalu. Dalam kecelakaan ini, Ridwan mengalami patah tulang.

Kasmir diduga menabrak Ridwan yang tengah bertugas menertibkan aksi balapan liar sepeda motor malam itu.

Pada Senin siang, polisi mengabarkan bahwa Kasmir meninggal dunia akibat gantung diri di tahanan.

Kepala Polres Buol Ajun Komisaris Besar Amin Litarso hingga kemarin kepada pers juga menekankan bahwa ciri yang ada pada jasad Kasmir menandakan dia bunuh diri. ”Ciri utama yang rata-rata ada pada korban bunuh diri adalah keluarnya sperma dan patah tulang leher,” katanya.

Penjelasan senada dikemukakan Kapolda Sulteng. ”Saat ini saya berpendapat dan diperkuat oleh hasil visum, korban tewas akibat bunuh diri dengan cara gantung diri. Itu pendapat saya saat ini,” kata Amin Saleh.

Hasil visum RSUD Buol, sebagaimana dijelaskan dr I Made Darmawan,

kematian Kasmir akibat patah tulang leher dan saluran pernapasan yang terjepit. Tak ada kesimpulan bunuh diri.

Hal inilah yang membuat warga meminta penjelasan polisi yang lebih detail, yang akhirnya berujung pada bentrokan yang menimbulkan kematian.

Fraksi Partai Demokrat DPR, melalui anggotanya, Didi Irawadi Syamsuddin, di Jakarta meminta Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri mengusut tuntas kasus ini. ”Apalagi, kejadian itu telah mengakibatkan sejumlah korban tewas dan puluhan orang luka-luka,” katanya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Marwoto Soeto menyatakan, Kapolri telah membentuk tim pencari fakta untuk menginvestigasi kasus kekerasan dan perusakan Polsek Biau. ”Tim dipimpin oleh Wakil Kapolri,” katanya. (TRA/FER/REN/APA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau