Kereta ukur

Deteksi Keselamatan Perjalanan Kereta

Kompas.com - 02/09/2010, 03:16 WIB

Lokomotif sepanjang 12 meter dan lebar 3 meter berwarna biru mencuri perhatian semua mata saat berhenti di Stasiun Tugu, Yogyakarta, Rabu (1/9) pagi. Selain tampilannya yang tak seperti biasanya, lokomotif ini hanya dikeluarkan PT Kereta Api dua tahun sekali. Kelangkaannya membuatnya istimewa.

Sekilas, fungsi lokomotif bernama Plasser EM-120 ini cukup jelas saat membaca tulisan di sampingnya: ”Kereta Ukur Jalan Rel”. Namun, lokomotif buatan Austria itu bukan untuk mengukur panjang rel KA, melainkan untuk mengukur kelayakan rel.

Menjelang mudik Lebaran ini, PT KA mengoperasikan kereta ukur itu untuk mengetahui kondisi rel demi memastikan keselamatan perjalanan KA dan kenyamanan penumpang.

Kereta ukur memulai pekerjaannya sejak 16 Agustus, dengan menyusuri jengkal demi jengkal rel di Pulau Jawa. Dimulai dari markas pusat di Bandung dan berakhir di Bandung juga. Kota yang dilintasi adalah Jakarta, Cirebon, Semarang, Surabaya, Jember, Banyuwangi, kembali ke Surabaya untuk menyusuri lintas selatan via Malang, Madiun, Yogyakarta, Purwokerto, Cirebon, dan kembali lagi ke Bandung.

”Panjang rel yang diperiksa hampir 3.000 kilometer. Diperlukan waktu tiga minggu untuk menyelesaikan satu siklus pemeriksaan,” kata Ketua Tim Kereta Ukur PT KA Aditya Sukma B di atas kereta ukur yang sedang memeriksa kelayakan rel Yogyakarta-Solo, Rabu.

Aditya yang juga menjabat sebagai Junior Manager Track Maintenance PT KA itu mengatakan, pemeriksaan rel dengan kereta ukur dilakukan setiap enam bulan. Itu dilatarbelakangi kondisi rel yang dapat berubah dari bentuk idealnya, atau mengalami cacat karena kerusakan material dan faktor cuaca.

Kerusakan material dapat bersumber dari pecahnya bantalan rel yang terbuat dari kayu, besi, atau beton yang berpotensi mengubah lebar rel. Lalu, ada faktor cuaca panas ekstrem yang bisa membuat rel memuai melebihi jarak yang telah diberikan di tiap sambungan. Hal itu akan membuat rel saling bertumburan dan akhirnya melengkung.

Kondisi seperti itu merupakan potensi bahaya yang dapat mencelakakan perjalanan KA karena dapat membuat tergelincir, selip, anjlok, hingga terguling. ”Kereta ukur ini berfungsi mendeteksi cacat-cacat pada rel dan memberikan datanya kepada pejabat KA di setiap wilayah untuk ditindaklanjuti dengan perbaikan,” kata Aditya.

Kereta ukur diawaki empat orang yang terdiri atas masinis, pengolah data, teknisi, dan pemimpin perjalanan. Prinsip kerja kereta ukur yang dioperasikan sejak 1995 adalah mengukur geometri rel dalam empat parameter, yakni pertinggian, angkatan, kelurusan, dan lebar.

Pengukuran dilakukan 12 sensor yang terletak di bagian bawah kereta saat berjalan dengan kecepatan konstan 90-95 kilometer per jam. Data dari sensor itu kemudian dikonversikan dalam bentuk grafik (mirip grafik pencatat gempa) yang diolah komputer dengan perangkat lunak khusus.

Seluruh data grafik itu kemudian dikonversikan lagi ke dalam nilai-nilai yang disebut track quality index. ”Dari nilai itu akan diketahui rel mana yang kondisinya layak dan titik-titik mana yang memerlukan perbaikan,” ujar Aditya.

Guna kepentingan pendokumentasian dan pencocokan data, kereta ukur juga dilengkapi dua kamera pemantau CCTV di bagian depan dan belakang, guna merekam jalur yang dilintasi. (Mohamad Final Daeng)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau