Jambi, Kompas
Demikian dikemukakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi Dyan Pramono Effendi kepada pers di Kota Jambi, Rabu (1/9).
Menurut Dyan, sejumlah faktor mendorong terjadi deflasi. Namun, faktor terbesar adalah penurunan harga bahan-bahan makanan dari bulan sebelumnya, seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, beras, minyak goreng, telur, serta ikan patin dan bawal.
”Pada Juli lalu terjadi kenaikan harga yang signifikan terhadap sejumlah komoditas ini. Namun, harga itu mulai menurun pada Agustus. Akan tetapi, penurunannya belum mencapai titik normal,” ujar Dyan.
Dyan melanjutkan, ketersediaan bahan-bahan makanan pada sebagian besar kabupaten dan kota di Jambi cenderung stabil sehingga harga tidak bergejolak. Selain itu, motif spekulasi di kalangan pedagang tak terjadi.
”Kami memantau pasokan bahan makanan cukup banyak.
Kondisi ini berbeda ketimbang pada bulan Juli ketika harga sejumlah komoditas melonjak seiring munculnya rencana pemerintah menaikkan harga tarif dasar listrik. Pada bulan Juli, harga cabai merah sempat Rp 60.000 per kilogram dari sebelumnya
”Kondisi ini cukup menggembirakan bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah mengingat harga umumnya cenderung melonjak ketika menjelang Lebaran,” ujarnya.
Deflasi tak hanya dialami Jambi. Selama Agustus, sebagian besar kota di Sumatera mengalami deflasi, seperti di Pematang Siantar, Bengkulu, Medan, Padang, dan Dumai. Sementara Palembang, Pangkal Pinang, dan Lampung mengalami inflasi.
Sementara itu, tingkat kesejahteraan petani yang tergambar melalui indeks nilai tukar petani (NTP) masih rendah. NTP di Jambi turun 0,36 persen menjadi 96,46 pada Agustus lalu dari sebelumnya 96,80.
Dari pemantauan BPS pada sembilan kabupaten di Provinsi Jambi, diketahui hasil yang diperoleh petani lebih rendah ketimbang biaya yang dikeluarkannya. Dari lima subsektor yang dipantau, tiga di antaranya terjadi penurunan, yaitu tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat.
Penurunan paling besar pada subsektor hortikultura sebesar 0,64 persen. Sementara NTP untuk tanaman pangan dan subsektor perkebunan rakyat masing-masing turun 0,53 persen.
Dalam 1,5 tahun terakhir, kondisi kesejahteraan petani di Jambi belum pulih. Secara umum, petani bisa dibilang selalu nombok karena indeks NTP selalu di bawah 100. NTP menunjukkan daya tukar atau tingkat kemampuan beli. Semakin rendah indeks, berarti semakin rendah daya beli petani, yang menandakan semakin rendah tingkat kesejahteraannya.
Selama Agustus lalu, tingkat inflasi pedesaan mencapai 0,47 persen, didorong terjadi kenaikan harga pada kelompok bahan makanan dan makanan jadi.
Dari 32 provinsi yang dilaporkan, 14 provinsi lainnya mengalami kenaikan NTP. Sementara 18 provinsi lain mengalami penurunan NTP, termasuk Jambi. Kenaikan NTP tertinggi di DI Yogyakarta sebesar 1,23 persen. Penurunan terbesar di Kalimantan Tengah 0,72 persen.