Ekonomi

Jambi Alami Deflasi 0,66 Persen

Kompas.com - 02/09/2010, 03:27 WIB

Jambi, Kompas - Harga bahan makanan di Kota Jambi selama Agustus 2010 cenderung stabil dibandingkan dengan bulan Juli. Kondisi itu membuat deflasi di kota tersebut sebesar 0,66 persen.

Demikian dikemukakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi Dyan Pramono Effendi kepada pers di Kota Jambi, Rabu (1/9).

Menurut Dyan, sejumlah faktor mendorong terjadi deflasi. Namun, faktor terbesar adalah penurunan harga bahan-bahan makanan dari bulan sebelumnya, seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, beras, minyak goreng, telur, serta ikan patin dan bawal.

”Pada Juli lalu terjadi kenaikan harga yang signifikan terhadap sejumlah komoditas ini. Namun, harga itu mulai menurun pada Agustus. Akan tetapi, penurunannya belum mencapai titik normal,” ujar Dyan.

Dyan melanjutkan, ketersediaan bahan-bahan makanan pada sebagian besar kabupaten dan kota di Jambi cenderung stabil sehingga harga tidak bergejolak. Selain itu, motif spekulasi di kalangan pedagang tak terjadi.

”Kami memantau pasokan bahan makanan cukup banyak. Bulog dan Disperindag harus gencar menggelar operasi pasar sehingga harga di pasaran tetap stabil,” tuturnya.

Kondisi ini berbeda ketimbang pada bulan Juli ketika harga sejumlah komoditas melonjak seiring munculnya rencana pemerintah menaikkan harga tarif dasar listrik. Pada bulan Juli, harga cabai merah sempat Rp 60.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 12.000 dan harga beras kualitas premium, seperti Belida dan King, mencapai Rp 7.000 per kg dari sebelumnya Rp 6.000. Kenaikan harga tidak lagi berlanjut pada Agustus.

”Kondisi ini cukup menggembirakan bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah mengingat harga umumnya cenderung melonjak ketika menjelang Lebaran,” ujarnya.

Deflasi tak hanya dialami Jambi. Selama Agustus, sebagian besar kota di Sumatera mengalami deflasi, seperti di Pematang Siantar, Bengkulu, Medan, Padang, dan Dumai. Sementara Palembang, Pangkal Pinang, dan Lampung mengalami inflasi.

Tingkat kesejahteraan

Sementara itu, tingkat kesejahteraan petani yang tergambar melalui indeks nilai tukar petani (NTP) masih rendah. NTP di Jambi turun 0,36 persen menjadi 96,46 pada Agustus lalu dari sebelumnya 96,80.

Dari pemantauan BPS pada sembilan kabupaten di Provinsi Jambi, diketahui hasil yang diperoleh petani lebih rendah ketimbang biaya yang dikeluarkannya. Dari lima subsektor yang dipantau, tiga di antaranya terjadi penurunan, yaitu tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat.

Penurunan paling besar pada subsektor hortikultura sebesar 0,64 persen. Sementara NTP untuk tanaman pangan dan subsektor perkebunan rakyat masing-masing turun 0,53 persen.

Dalam 1,5 tahun terakhir, kondisi kesejahteraan petani di Jambi belum pulih. Secara umum, petani bisa dibilang selalu nombok karena indeks NTP selalu di bawah 100. NTP menunjukkan daya tukar atau tingkat kemampuan beli. Semakin rendah indeks, berarti semakin rendah daya beli petani, yang menandakan semakin rendah tingkat kesejahteraannya.

Selama Agustus lalu, tingkat inflasi pedesaan mencapai 0,47 persen, didorong terjadi kenaikan harga pada kelompok bahan makanan dan makanan jadi.

Dari 32 provinsi yang dilaporkan, 14 provinsi lainnya mengalami kenaikan NTP. Sementara 18 provinsi lain mengalami penurunan NTP, termasuk Jambi. Kenaikan NTP tertinggi di DI Yogyakarta sebesar 1,23 persen. Penurunan terbesar di Kalimantan Tengah 0,72 persen. (ITA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau