Pedagang Kartu Lebaran Alami "Paceklik"

Kompas.com - 02/09/2010, 11:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tradisi menyampaikan ucapan selamat berlebaran kepada sanak keluarga dan teman sudah menjadi tradisi silaturahim di Indonesia.

Dari tahun ke tahun, tradisi ini tetap terjaga, hanya bentuk medianya saja yang berbeda yang semula kartu Lebaran kini media berubah ke arah media SMS. Praktis, penggunaan kartu Lebaran di masa sekarang sudah semakin minim. Hal ini tentu berdampak pada para pedagang kartu Lebaran.

Darmi (70), misalnya, mengaku mengalami masa paceklik penjualan selama dua tahun ini. Tahun 2010 inilah yang menurutnya terparah.

"Tahun ini sampai sekarang paling sehari cuma 5.000-10.000, tahun lalu masih lumayan dalam sebulan itu saya bisa dapat Rp 500.000-Rp 600.000," ujarnya,

Rabu (1/9/2010), di Pasar Baru, Jakarta. Ia mengaku uang harian yang didapatnya dari berjualan kartu Lebaran dagangannya itu hanya cukup membiayai ongkos transportasinya dari Pondok Gede ke Pasar Baru.

"Sepi, benar-benar parah banget sepinya tahun ini," ujar wanita yang sudah mulai berjualan kartu Lebaran sejak tahun 1969 itu.

Menurutnya, sepinya omzet penjualannya ini dikarenakan masyarakat yang datang ke kantor pos juga semakin sedikit. Hal ini kemungkinan terjadi karena mulai banyak yang beralih ke SMS. Darmi menjual kartu Lebaran dengan harga beragam, yakni antara Rp 1.000 dan Rp 4.000.

Darmi pun kemudian bercerita pada era ponsel masih belum berjaya, dirinya bisa mendapatkan omzet mencapai Rp 2 juta-Rp 3 juta selama bulan puasa.

"Kalau sekarang enggak mungkin sepi banget. Saya stres ini kayak kalau terus kayak gini untuk pengobatan saya yang asma juga tidak cukup," ujarnya.

Meski tengah dilanda dilema akibat penghasilannya yang kian menurun tiap tahunnya ini, Darmi mengaku tetap akan berjualan kartu Lebaran. Pasalnya, menjual kartu Lebaran tidak memerlukan modal yang banyak karena apabila tidak laku, masih bisa digunakan tahun depannya.

"Coba kalau cabai, hari ini enggak laku, besok sudah busuk dia. Kalau kartu tidak," ujarnya.

Pantauan Kompas.com, sebanyak empat pedagang lainnya yang berjajar menjajakan kartu Lebaran di daerah Pasar Baru juga tampak sepi pembeli. Mereka pun mengaku omzetnya tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu.

Jarum jam baru menunjuk ke angka 2 siang, tapi para pedagang tersebut tengah bersiap menutup lapaknya.

"Kantor pos juga sepi, ini sore enggak mungkin lagi ada yang beli. Jadi ya sudah saya tutup sekarang saja," ungkap Darmi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau