Kegiatan ramadhan

Buka Bersama dan "Social Networking"

Kompas.com - 02/09/2010, 16:43 WIB

Oleh Dody Wisnu Pribadi

Saat bulan puasa tahun lalu, seorang pelawak di televisi memopulerkan istilah "open together". Frasa hasil bahasa Inggris asal-asalan yang meniru gaya pelawak Thukul dalam acaranya, Empat Mata (lalu diganti Bukan Empat Mata), berarti buka bersama atau tepatnya buka puasa bersama.

Perlahan dan kian pasti, "buka bersama" mulai muncul sebagai kebiasaan masyarakat setiap kali bulan puasa tiba, semenjak mulai populer mungkin selama dua dekade terakhir. Buka bersama dengan cepat menemukan pengayaan dan peragaman fungsinya yang seolah diperbarui terus-menerus. Ia tidak lagi sekadar "mencari pahala memberi makan berbuka kepada orang yang menjalani ibadah puasa".

Presiden Amerika Serikat Barack Obama, misalnya, menyampaikan pesan politik perdamaiannya kepada umat Islam pada acara buka bersama di Gedung Putih, 14 Agustus 2010. Hanya saja entah kenapa ada perbedaan istilah antara makan makanan yang membatalkan puasa hari itu menurut istilah di Gedung Putih dengan sebutan iftar, sementara di negeri ini bernama takjil.

Obama menyampaikan pesan tentang komitmen kebebasan beragama, dan ini menegaskan pembentukan fungsi dalam acara "buka bersama" ini sebagai kampanye politik perdamaian internasional. Dalam blog Gedung Putih (www. whitehouse.gov), buka puasa bersama disebut sebagai tradisi, yang bahkan juga dilakukan di Pentagon, markas besar Departemen Pertahanan AS.

Pemimpin Bank Indonesia Malang Totok Hermiyanto menyelenggarakan buka puasa bersama sebagai sarana menyosialisasikan kegiatan pihaknya sebagai otoritas moneter di wilayah ini seputar ketersediaan uang kartal (uang fisik) untuk melayani kebutuhan masyarakat saat Lebaran.

Di sejumlah instansi lain, hal ini juga berlangsung, termasuk di Polres Malang. Bahkan, acara ini juga menjadi kegiatan internal di lembaga swasta. Acara buka puasa bersama dewasa ini nyaris menjadi jadwal rutin setiap Ramadhan tiba di semua instansi atau komunitas.

Seorang karyawan perusahaan minyak mengundang kawan-kawan kuliahnya, yang tergabung dalam Facebook, untuk acara buka puasa komunitas ini. Artinya, buka puasa bersama bukan lagi gejala elitis yang hanya dilakukan lembaga, tetapi juga dilakukan orang per orang.

Transformasi

Buka puasa bersama, dengan kesadaran bahwa ini sebenarnya bukan bagian terpenting peribadatan, telah bertransformasi sebagai kebiasaan "baru", yang oleh para pengkaji studi kebudayaan disebut kebudayaan massa. Cirinya, telah terjadi masifikasi.

Marshall Mc Luhan membantu memahamkan soal ini dengan istilah bahwa kita kini adalah penghuni desa global (global village), tetapi bukan desa tempat kita menjalani masa kecil dahulu dengan segenap tradisinya, seperti dijelaskan Sunardi (2007, Budaya Populer, Penerbit Jejak, Yogyakarta).

Pengajar sosiologi Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang yang sudah menghabiskan banyak waktu di luar negeri termasuk di Mesir, Dr Vina Salviana, menjelaskan bahwa telah terjadi penciptaan pernik-pernik yang selanjutnya berkembang menjadi komoditas. Pendeknya, sumber uang baru.

Logikanya mirip dengan gejala fotografi prewedding, yang dahulu tidak ada meski ada tukang foto pada pernikahan. Acara pemotretan sebelum pernikahan itu telah berkembang sebagai bisnis besar, yang sesungguhnya tidak langsung berhubungan dengan acara dan substansi pernikahan.

Restoran-restoran justru ramai saat Ramadhan oleh orang-orang yang menyelenggarakan buka puasa bersama. Buka puasa bersama masih merupakan medan praktik keagamaan karena tetap ada takjil, shalat maghrib, kemudian makan. Namun pada saat bersamaan, transaksi- transaksi dan urusan-urusan dilanjutkan.

Buka bersama tidak persis lagi sebagai "buka puasa yang dilakukan bersama-sama", melainkan aktivitas konsumsi belaka, katakanlah makan bersama di restoran lalu pulang dioleh-olehi buah tangan oleh pengundang. Artinya, acara buka puasa bersama ini hanya tinggal bermakna sebagai bunyi tulisan di kertas undangan. Sederhananya, buka puasa bersama ini tidak penting lagi atau sekadar bungkus kegiatan.

Jadi, praksis yang berlangsung sebenarnya sebuah aktivitas jejaring sosial biasa. Sebuah tempat hasrat dasar manusia untuk eksis, seperti pamer, membangun relasi bisnis, termasuk memberi parsel sebagai aktivitas upeti bisnis, juga akan berlangsung.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau