Mengelola Uang Saku, Yuk!

Kompas.com - 03/09/2010, 02:56 WIB

MuDAers, pada sebagian keluarga ada kebiasaan orang tua, entah itu kakek, nenek, tante, atau om, memberikan uang Lebaran untuk anak-anak. Biasanya, setiap anak yang belum bekerja pasti kebagian ”amplop Lebaran”.

Kumpulan uang Lebaran itu bisa jadi bonus, selain uang saku dari orangtua, yang pastilah hal penting buat kita. Berapa pun besarnya, uang itu amat berarti, terutama buat bayar ongkos transpor ke sekolah, buat beli makan siang saat jam istirahat, dan membeli pernak-pernik kebutuhan kita. Tetapi, gimana sih cara kita mengelola uang saku itu?

Rizki Adiyasa (17), siswa kelas XII SMA Infokom Bogor, mendapat uang saku dari orangtuanya sebesar Rp 20.000 per hari. Uang itu dia gunakan untuk dua kali naik angkutan umum dari rumah ke sekolah pergi-pulang Rp 8.000, juga untuk makan siang Rp 12.000.

”Kadang saya bawa bekal dari rumah, jadi enggak perlu jajan. Uangnya bisa ditabung,” kata Rizki.

Dias Aisyah Putri (15), siswi kelas XI SMA Al Azhar Bumi Serpong Damai, Tangerang, mendapat uang saku lebih banyak, Rp 25.000 per hari. Uang sakunya nyaris utuh karena dia tidak menumpang angkutan umum saat ke sekolah, melainkan diantar. Begitu juga saat istirahat, dia jajan kadang-kadang saja karena Dias lebih sering membawa bekal dari rumah.

”Uang saku aku tabung, tapi bakal abis kalo hari Sabtu-Minggu. Soalnya aku selalu jalan-jalan ke mal sama teman-temanku. Uang itu, ya, buat aku belanja, buat makan, beli pulsa telepon, nonton film. Susah banget kalo mau nabung,” kata Dias.

Fina Mutiasari (15), Twena Dara Fizella (16), dan Nita Nabilla (15) adalah siswi SMA Muhammadiyah 3 Jakarta Selatan. Fina mendapat uang saku sebesar Rp 20.000 per hari, Twena mendapat uang saku bulanan Rp 250.000-Rp 300.000 yang diberikan orangtuanya di awal bulan, sedangkan Nita mendapat uang saku mingguan sebesar Rp 80.000.

Fina enggak perlu mengeluarkan biaya transpor ke sekolah karena dia ikut kendaraan antar-jemput, sedangkan Twena diantar ibunya ke sekolah dan pulang dengan temannya, dan Nita berangkat diantar orangtua dan pulang naik angkutan umum.

”Saya nabung tiap bulan Rp 100.000, sekarang sudah terkumpul Rp 1,8 juta. Uang itu mau saya pakai untuk membayar study tour bulan Desember nanti, Rp 1,8 juta,” kata Twena.

Mereka mengaku agak susah menabung karena godaan untuk membeli barang atau jalan-jalan ke mal sangat kuat.

Siswa kelas XI SMA Negeri 6 Jakarta, Nur Aji Luthfi Prakoso, mendapat uang saku tidak terlalu besar, Rp 10.000 per hari. Ia biasa diberi uang saku mingguan Rp 50.000.

”Saya cuma bayar angkutan pergi-pulang Rp 2.000. Jadi saya masih bisa nabung. Sempat nabung sampai Rp 900.000 buat beli pulsa telepon dan nambahin beli Blackberry,” kata Aji.

Harus berlatih

Remaja ikut-ikutan teman main ke mal atau berbelanja benda konsumtif, menurut psikolog Tika Bisono, adalah sesuatu yang wajar karena mereka hidup dalam perspektif peer group.

”Buat anak-anak yang kreatif, mereka akan jadi pemimpin dalam grup, menjadi rujukan buat anak-anak yang relatif pasif dan tak kreatif. Mereka yang pasif ini akan sangat terbantu,” kata Tika.

Percampuran model kepribadian, sifat, dan karakter ini, menurut Tika, akan menguntungkan pertumbuhan psikologis karena remaja sangat berkepentingan untuk diakui dan diterima kelompoknya.

Bagaimana remaja mengelola uangnya, mereka bisa mencontoh bagaimana orangtua masing-masing mengelola uang. Jika orangtua mengajarkan berhemat, sebaiknya remaja juga melakukan penghematan karena mencari uang itu tak mudah.

Berapa besar uang saku yang ideal buat remaja tentunya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Itu juga yang dikemukakan perencana keuangan Safir Senduk.

”Remaja perlu belajar bagaimana mengelola uang, mereka harus bisa mempertanggungjawabkan ke mana uangnya digunakan,” katanya.

Hal yang harus dilatih para remaja adalah bagaimana membangun kemampuan nalar dan logika, bagaimana mengambil keputusan yang tepat.

”Kalau mereka bisa mengambil keputusan sendiri, itu tentu lebih bagus dibandingkan disuruh orangtua karena keputusannya tak akan matang. Kalau remaja sudah bisa memutuskan sendiri, tidak ikut-ikutan teman, itu namanya punya kecerdasan intrapersonal. Tidak masalah bergaul dengan siapa pun kalau dia sudah memiliki kecerdasan intrapersonal,” kata Tika.

Berpenghasilan

Bagi Safir Senduk, remaja SMA yang memiliki uang saku bisa disebut sudah berpenghasilan. Namun, karena penghasilan mereka dapatkan bukan dari bekerja, tak heran jika remaja usia SMA begitu mudah membelanjakan uangnya.

”Jika mereka mendapatkan penghasilan dari bekerja, entah dengan menulis atau bekerja sampingan, tentu mereka lebih menghargai uang yang didapatkan dengan susah payah,” kata Safir.

Remaja pun sudah sewajarnya belajar mengelola uang saku. Dan, uang saku sebaiknya diberikan secara bulanan supaya mereka langsung praktik bagaimana mengelola uang itu agar cukup untuk keperluan selama sebulan.

”Remaja SMA nantinya juga akan bekerja, mendapat gaji bulanan, jadi mulai sekarang mereka harus belajar mengelola uang saku bulanan,” tambah Safir.

Untuk pengeluaran, menurut dia, bisa dipilah menjadi tiga, yakni pengeluaran karena wajib, butuh, dan ingin.

Pengeluaran wajib adalah pengeluaran yang harus dibayarkan. Maka, jika tidak dibayar akan ada konsekuensi, misalnya membayar cicilan utang.

Pengeluaran karena butuh adalah pengeluaran yang harus dibayarkan. Namun, jika tidak dibayar, tidak ada konsekuensi, misalnya membeli pulsa telepon.

Sedangkan pengeluaran karena ingin adalah segala pos pengeluaran yang kita bayarkan karena ingin, semisal membeli T-shirt di distro.

”Nah, para remaja harus tahu betul pengeluarannya itu termasuk pengeluaran apa? Wajib, butuh, atau ingin?” kata Safir Senduk.

Jika remaja menghargai uang, tentu mereka tidak akan dengan mudah menghabiskan uangnya. Bahkan mereka bisa menabung dan berinvestasi.

”Menabung itu menyisihkan uang untuk mencapai tujuan di masa datang, misalnya membeli sesuatu. Kalau berinvestasi itu berarti memperbesar aset yang kita miliki tanpa goal atau tujuan,” kata Safir Senduk.

Meskipun uang saku yang dimiliki tidak besar, para remaja sebenarnya juga bisa berinvestasi, misalnya dengan membeli ORI (Obligasi Ritel Indonesia) atau reksadana.

”Manajer investasi yang akan memutar uang kita. Reksadana bisa kita beli dengan dana sekitar Rp 100.000-Rp 200.000. Sayang sekali kalau uang kita dihabiskan. Kalau membeli sesuatu karena ikut-ikutan teman, itu artinya dia tidak bisa memimpin dirinya sendiri. Jadilah orang yang bisa memimpin diri sendiri,” saran Safir Senduk. (LOK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau