Perdamaian timur tengah

Israel: Kami Mau Damai

Kompas.com - 03/09/2010, 08:23 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Setelah 20 bulan tertunda, para pemimpin Palestina dan Israel kembali duduk di meja perundingan. Namun, perundingan itu dibayangi pesimisme setelah empat warga Israel tewas dan dua terluka dalam rangkaian kekerasan terbaru di Tepi Barat.

Perundingan antara Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu berlangsung di Washington DC, AS, Kamis (2/9/2010) siang waktu setempat. Perundingan yang dilangsungkan di Kantor Departemen Luar Negeri AS itu akan dimoderatori oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton.

Malam sebelumnya, Presiden AS Barack Obama mengadakan jamuan makan malam untuk kedua pemimpin negara di Gedung Putih, yang juga dihadiri oleh Presiden Mesir Hosni Mubarak, Raja Abdullah II dari Jordania, dan wakil kuartet perundingan Timur Tengah Tony Blair.

Presiden Obama mengaku harap-harap cemas dengan proses perundingan terbaru ini mengingat rumitnya permasalahan di antara kedua pihak. Meski demikian, ia mengingatkan, kesempatan emas ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Dalam kesempatan memberikan sambutan, PM Netanyahu mengatakan, pihaknya sungguh-sungguh mencari perdamaian dari perundingan ini. ”Kami tak mencari jeda singkat di antara dua perang atau waktu istirahat sementara di antara serangan-serangan teror. Kami mencari perdamaian, yang akan mengakhiri konflik ini, sekali untuk selamanya,” kata Netanyahu, yang menyebut Abbas sebagai ”mitra dalam perdamaian”.

Presiden Abbas pun membalas, ia tak ingin terjadi pertumpahan darah lagi, baik di sisi Palestina maupun Israel. ”Marilah kita tanda tangani perjanjian damai untuk mengakhiri penderitaan panjang ini, selamanya,” tukas dia.

Perundingan damai Palestina-Israel terhenti setelah pasukan Israel menyerang Jalur Gaza, Desember 2008. Sejak saat itu, Pemerintah AS di bawah Obama berusaha keras mengembalikan dua pihak ke meja perundingan. Kekerasan Hamas

Sehari sebelum perundingan, dua warga Israel ditembak di dekat kota Ramallah, Tepi Barat. Insiden ini menyusul terbunuhnya empat warga Israel di dekat Hebron, Tepi Barat, Selasa.

Hamas mengaku bertanggung jawab atas dua aksi kekerasan itu. Seorang petinggi Hamas, Mahmoud Zahar, menegaskan, pihaknya menolak berkompromi dengan Israel dan serangan serupa akan terus dilakukan.

”Kami akan terus melawan, terutama di kawasan Tepi Barat,” tandas Zahar kepada AP Television News, Rabu.

Baik Netanyahu, Obama, maupun Abbas mengutuk serangan tersebut. (AP/Reuters/AFP/CNN.com/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau