SAMPIT, KOMPAS.com - Penumpang mudik lebaran membludak sehingga ribuan penumpang KM Binaiya tujuan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya yang bertolak dari Pelabuhan Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah tidak kebagian tempat tidur.
"Para penumpang mengeluhkan pelayanan PT pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) selaku pihak pemilik KM Binaiya. Karena kapal yang hanya berkapasitas 1.500 penumpang tersebut mengangkut 3.000 lebih penumpang," kata Sarmin, penumpang KM Binaiya, Minggu (5/9/2010).
Lebih dari separuh penumpang tidak kebagian tempat tidur. Mereka terpaksa menjejali dek-dek yang kosong dan lorong-lorong kapal bagian luar.
Kondisi tersebut diperparah beberapa saat setelah kapal bertolak, turun hujan deras. Penumpang yang berada di lorong luar kapal tidak bisa menghindar dari guyuran air hujan.
Penumpang tidak bisa menghindari hujan. Banyak anak-anak kecil yang kehujanan dan tidak ada tempat untuk berteduh karena di dek bagian dalam sudah penuh sesak dengan penumpang.
"Kami yang duduk lesehan di dek paling atas dan di lorong bagian luar basah kutup, sebagian besar penumpang baik tua maupun anak-anak pasrah dengan kondisi ini," kata Sarmin.
Kepala PT Pelni Cabang Sampit Abdullah Hasbi mengatakan, banyaknya penumpang yang tak kebagian tempat tidur sudah wajar terjadi terutama pada saat arus mudik lebaran seperti sekarang ini.
"Bagaimana mau kebagian semua, sementara tempat tidur yang tersedia cuma untuk 1.500 penumpang sedangkan penumpangnya jumlah lebih dari itu," terangnya.
Hasbi mengungkapkan, dalam pelayanan arus mudik kali ini penumpang semuanya dapat terangkut. Pihaknya memberangkatkan penumpang melebihi kapasitas namun sesuai dengan batas dispensasi yang telah ditentukan.
Kepala Administrator Pelabuhan (Adpel) Sampit Sunanto mengatakan, arus mudik lebaran melalui pelabuhan Sampit pada Minggu jumlahnya mencapai 5.000 penumpang lebih.
"Seluruh penumpang telah diberangkatkan dengan menggunakan tiga buah kapal, KM Binaiya tujuan Tanjung Perak Surabaya mengangkut 3.000 penumpang, KM Kirana I tujuan Tanjung Mas Semarang mengangkut 1.166 penumpang dan KM Darma Ferry II tujuan Surabaya mengangkut sekitar 1.000 orang," katanya.
Sunanto menandaskan puncak arus mudik diprediksi akan terjadi pada 8 September mendatang. Di hari tersebut telah disediakan empat buah kapal masing-masing dua kapal tujuan Surabaya dan dua di antaranya tujuan Semarang.
Direktur Kesatuan Pengamanan Laut dan Perairan (KPLP) Ditjen Hubla, Yudustar, saat melakukan pemantauan aktivitas arus mudik di Pelabuhan Sampit menilai, proses penanganan arus mudik di Pelabuhan Sampit berlangsung aman dan lancar.
Menurut dia lintas sektoral yang menangani arus mudik seperti pihak Adpel, Pelindo, PT Pelni, PT Dharma serta instansi terkait lainnya sudah optimal memberikan pelayanan terbaik kepada pemudik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang