Jelang lebaran

Penumpang Kapal Membludak Tapi Terangkut

Kompas.com - 05/09/2010, 19:16 WIB

SAMPIT, KOMPAS.com - Penumpang mudik lebaran membludak sehingga ribuan penumpang KM Binaiya tujuan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya yang bertolak dari Pelabuhan Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah tidak kebagian tempat tidur.

"Para penumpang mengeluhkan pelayanan PT pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) selaku pihak pemilik KM Binaiya. Karena kapal yang hanya berkapasitas 1.500 penumpang tersebut mengangkut 3.000 lebih penumpang," kata Sarmin, penumpang KM Binaiya, Minggu (5/9/2010).

Lebih dari separuh penumpang tidak kebagian tempat tidur. Mereka terpaksa menjejali dek-dek yang kosong dan lorong-lorong kapal bagian luar.

Kondisi tersebut diperparah beberapa saat setelah kapal bertolak, turun hujan deras. Penumpang yang berada di lorong luar kapal tidak bisa menghindar dari guyuran air hujan.

Penumpang tidak bisa menghindari hujan. Banyak anak-anak kecil yang kehujanan dan tidak ada tempat untuk berteduh karena di dek bagian dalam sudah penuh sesak dengan penumpang.

"Kami yang duduk lesehan di dek paling atas dan di lorong bagian luar basah kutup, sebagian besar penumpang baik tua maupun anak-anak pasrah dengan kondisi ini," kata Sarmin.

Kepala PT Pelni Cabang Sampit Abdullah Hasbi mengatakan, banyaknya penumpang yang tak kebagian tempat tidur sudah wajar terjadi terutama pada saat arus mudik lebaran seperti sekarang ini.

"Bagaimana mau kebagian semua, sementara tempat tidur yang tersedia cuma untuk 1.500 penumpang sedangkan penumpangnya jumlah lebih dari itu," terangnya.

Hasbi mengungkapkan, dalam pelayanan arus mudik kali ini penumpang semuanya dapat terangkut. Pihaknya memberangkatkan penumpang melebihi kapasitas namun sesuai dengan batas dispensasi yang telah ditentukan.

Kepala Administrator Pelabuhan (Adpel) Sampit Sunanto mengatakan, arus mudik lebaran melalui pelabuhan Sampit pada Minggu jumlahnya mencapai 5.000 penumpang lebih.

"Seluruh penumpang telah diberangkatkan dengan menggunakan tiga buah kapal, KM Binaiya tujuan Tanjung Perak Surabaya mengangkut 3.000 penumpang, KM Kirana I tujuan Tanjung Mas Semarang mengangkut 1.166 penumpang dan KM Darma Ferry II tujuan Surabaya mengangkut sekitar 1.000 orang," katanya.

Sunanto menandaskan puncak arus mudik diprediksi akan terjadi pada 8 September mendatang. Di hari tersebut telah disediakan empat buah kapal masing-masing dua kapal tujuan Surabaya dan dua di antaranya tujuan Semarang.

Direktur Kesatuan Pengamanan Laut dan Perairan (KPLP) Ditjen Hubla, Yudustar, saat melakukan pemantauan aktivitas arus mudik di Pelabuhan Sampit menilai, proses penanganan arus mudik di Pelabuhan Sampit berlangsung aman dan lancar.

Menurut dia lintas sektoral yang menangani arus mudik seperti pihak Adpel, Pelindo, PT Pelni, PT Dharma serta instansi terkait lainnya sudah optimal memberikan pelayanan terbaik kepada pemudik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau